Buka Usaha Warung Tenda di Pelosok Desa, Ini Cerita mas Budi Epeng



Warung Kang Epeng, Dokpri. 

Beberapa bulan lalu, seorang teman sekaligus tetangga baru saja buka usaha warung tenda yang menjual berbagai macam makanan. Seperti nasi goreng, mie goreng, kwetiauw, capcay, fuyunghai, dan banyak lagi yang lainnya. 

Ia menekuni usaha ini karena dulunya pernah bekerja di sebuah warung makan serupa selama beberapa tahun, hingga akhirnya bisa memasak sendiri dan buka usaha sendiri. 

Beliau yaitu mas Budi atau panggilan akrabnya Budi Epeng. Beliau berjualan di depan rumahnya yang lokasinya cukup terpelosok karena berada di ujung dusun yang sekitarnya dikelilingi pegunungan. Jadi, masyarakat yang tinggal pun cuma sedikit, mungkin hanya sekitar 50 kepala keluarga. 

Para pelanggannya pun kebanyakan hanya warga sekitar saja. Namun semenjak internet semakin marak, ia bisa mempromosikannya via whatsapp lewat fitur storynya. Yang membuat pembeli bisa datang dari daerah mana saja. 

Jika pembeli dari jauh, maka ada minimum pembelian dan termasuk ongkos kirim. Namun ia tidak mematok berapa ongkirnya karena ia bilang seikhlasnya saja, tidak dikasih juga tidak apa-apa. 

Dalam sehari, warungnya tidak selalu laris seperti yang ada di jalan besar, mungkin. Namun ada saja yang beli biarpun cuma satu orang. Untuk harganya pun cukup terjangkau warga sekitar yang hanya 10 ribu rupiah saja per porsi. Ia belum berani menaikkan harga karena usahanya masih baru. 


Menu di warung kang epeng, dokpri

Bagaimana cara ia mempertahankan usahanya agar terus berjalan

Cara dia untuk menjaga pelanggan tetap loyal yaitu dengan selalu buka setiap harinya. Kapan saat ada pembeli datang, menunya selalu ada. Tujuannya  agar pelanggan tidak kecewa. Selain itu ia juga cukup humble dan ramah ke semua orang karena itu juga kunci utama berbisnis.

Kemudian rasa makanan juga yang utama karena dalam bisnis kuliner, yang pelanggan cari adalah rasa. Rasa yang nikmat akan membuat usaha kuliner diburu pembeli. Selain itu, untuk backing belakang, ia juga jualan sempol ayam keliling. Misal jualan di rumah lagi sepi, maka ia keliling untuk jualan seperti di acara hajatan atau di sekolah-sekolah. 

Kalau kemarin sih lagi ada acara pertandingan sepak bola antar RW, dagangan ia cukup laris karena banyak sekali pengunjung yang datang. 

Oh ya, di rumahnya, selain menu makanan berat seperti nasi goreng atau kwetiaw tadi, pembeli yang ingin beli sempol ayam ataupun kulit lumpia harga seribuan pun dilayani. Itu dilakukan agar warung tendanya tetap bisa bertahan. Kemarin saat saya berkunjung, beberapa pembeli pun datang.  

Nah, itu dia cerita mas Budi berjualan makanan berat di daerah pelosok. Walaupun di pelosok tetap ada saja yang beli. Rezeki gak akan kemana kalau kita mau berusaha. Setiap hari selalu ada saja yang beli. Apalagi zaman sekarang sudah ada tekhnologi yang memudahkan. Semoga tulisan ini menjadi inspirasi buat kalian semua yang akan mulai berjualan. 

Btw saya udah beberapa kali beli dan rasanya cukup enak dan menunya banyak. 

Warung Kang Budi Epeng

Pacalbalung - Sidoagung - Sruweng - Kebumen 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Buka Usaha Warung Tenda di Pelosok Desa, Ini Cerita mas Budi Epeng "

Posting Komentar