Sukses Membuat Komposter Pengubah Sampah jadi Pupuk Sebagai Dukungan Gerakan Zero Waste Cities dari Rumah

Komposter pengubah sampah jadi pupuk

Fakta miris dan menyedihkan! 

1. Tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) di Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, 80% kapasitasnya sudah penuh. Dan pada 2021 ini diprediksikan akan penuh. 

2. Sejumlah tempat pembuangan sampah di Kota JogJakarta terlihat penuh. Seperti di TPS Pringgokusuman di Gedongtengen, Jogjakarta. Penumpukan sampah ini terjadi karena TPS yang berlokasi di Piyungan telah tutup semenjak Jumat, 18/12/2020 lalu. Sehingga TPS tersebut tidak mampu lagi menampung pembuangan sampah

3. TPA (Tempat Pembuangan Akhir) regional Sarbagita di Suwung, Bali, diprediksikan juga akan penuh pada 2021 ini. 

Untuk Anda yang tinggal di daerah sekitaran tersebut, kemana lagi harus membuang sampah jika sampah penuh? Apa yang akan kalian lakukan? 


Hai teman, kalian masih ingat mengenai peristiwa longsornya TPA Leuwigajah di Cimahi, Jawa Barat, pada Februari 2005 lalu? Sebanyak  157 nyawa terkubur saat mereka sedang terlelap tidur.  2 Kampung yaitu Kampung Cilimus dan Kampung Pojok tertimbun sampah.  Jika biasanya bencana alam sebabkan oleh elemen bumi seperti air dengan banjir atau tanah dengan tanah longsor, ini karena penumpukan sampah yang dilakukan oleh manusia. Miris sekali.

Gunungan sampah setinggi 20 meter dan panjang 200 meter itu goyah setelah diguyur hujan semalam suntuk dan menutup dua kampung tersebut. Barangkali ini adalah kejadian pertama kali dalam sejarah dimana longsor terjadi dikarenakan sampah. Jangan sampai kita mengulanginya lagi.

Tragedi Bencana Akibat Sampah di Leuwigajah Cimahi tahun 2005
Tragedi Bencana Akibat Sampah di Leuwigajah Cimahi tahun 2005. Foto : Net (pikiran-rakyat.com)

Lalu, apa sih solusinya ? 

Sebenarnya ada banyak solusi yang bisa dilakukan, tergantung niat kita bagaimana agar tidak menghasilkan sampah setiap harinya. Namun mungkin solusi berupa pengelolaan sampah dari kawasan, misal dengan menerapkan gaya hidup nol sampah atau zero waste lifestyle, merupakan solusi tepat agar tak menghasilkan sampah. 

Kawasan yang dimaksud bisa dari lingkungan RT atau RW, atau bahkan rumah sendiri. Zero waste lifestyle kalau dari kacamata saya pribadi, adalah perilaku atau kebiasaan dimana kita sebisa mungkin untuk tidak menghasilkan sampah setiap harinya, terutama sampah rumah tangga, dari sumbernya. Misal seperti menggunakan kembali barang yang tidak terpakai, mendaur ulang sampah, hingga membuatnya menjadi kerajinan, hiasan, atau bahkan pupuk. Baik itu pupuk kompos atau pupuk cair.  

Terkait zero waste lifestyle, ada sebuah program bernama Zero Waste Cities yang saat ini berpusat di Bandung, Jawa Barat. Yaitu sebuah model pengelolaan sampah berwawasan lingkungan, berkelanjutan, yang terdesentralisasi di kawasan pemukiman penduduk. 

Program Zero Waste Cities ini nantinya akan mengedukasi masyarakat tentang bagaimana proses pemilahan sampah dari sumbernya, dalam hal ini rumah masing-masing penduduk, lewat petugas-petugas yang andil di dalamnya, sehingga sampah yang akan diangkut ke TPA jumlahnya akan berkurang. 

Pengumpulan Terpilah Sampah di RW 7 Kelurahan Lebakgede Bandung
Pengumpulan Terpilah Sampah di area ZWC Bandung. Foto : press realease ypbb

ZWC itu ibarat penggerak dalam suatu aturan untuk mendorong masyarakat untuk disiplin memilah sampah. Ibarat orang naik motor harus pakai helm agar selamat, maka dibuatlah aturan dari pemerintah dalam hal ini kepolisian agar orang tersebut selamat dari kecelakaan. Dan dalam konteks ini, dibuat aturan dalam ZWC agar sampah tidak menganggu lingkungan dan dapat terkelola dengan baik. ZWC inilah yang akan mengubah kebiasaan lama yang kurang tepat menjadi kebiasaan baru yang lebih baik untuk lingkungan. 


Zero Waste Cities ini diinisiasi oleh MEF (Mother Earth Foundation) yang berlokasi  Filipina. Di Indonesia sendiri, YPBB sebagai organisasi non profit yang berfokus pada isu zero waste, telah mereplikasi dan menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Sejak tahun 2017 lalu, sudah ada 3 kota yang menerapkan program ini. Yaitu Kabupaten Bandung, Kota Bandung, dan Kota Cimahi. Dan pada 2019 kemarin telah merambah ke Kota Surabaya dan juga Denpasar. 

Namun menurut Mbak Anilawati saat live webinar ZWC pada 6 Februari 2021 kemarin, dalam 2 tahun ke depan bakal ada 10 kota baru yang akan bergabung ke ZWC. Ini membuktikan bahwa program ini mulai banyak diminati oleh warga dari berbagai kota di Indonesia. Nah, untuk kota Bandung, pengurangan sampah ke TPA berkurang 23,13% dengan tingkat partisipasi pemilahan oleh warga yaitu 37,82%. Berikut infografisnya. 


Pencapaian kota Bandung dalam program Zero Waste Cities
Pencapaian kota Bandung dalam program Zero Waste Cities. Infografis : ypbb.blogspot.com

Untuk kota Cimahi, program ini dikenal dengan nama Cimahi Barengras (Bareng-bareng Kurangi Sampah) dan telah mengurangi beban pengangkutan sampah ke TPA sebanyak 38% dengan tingkat partisipasi pemilahan oleh warga sebanyak 63,24%. Banyak juga ya. 63% itu banyak lho. 

Pencapaian kota Cimahi dalam program Zero Waste Cities. Infografis : ypbb.blogspot.com

Eh by the way, yang dimaksud pemilahan sampah itu gimana sih ya? 

Dalam video proses pemilahan sampah milik ZWC yang saya tonton, sampah dibedakan menjadi dua jenis yaitu sampah kering dan basah. Pemilik rumah menyediakan dua buah ember sebagai tempat sampah kering dan basah. Sampah basah bisa berupa sisa makanan atau sisa sayuran. Dan sampah kering bisa berupa benda-benda lainnya seperti plastik, kaleng bekas, atau kardus. 

Kemudian kedua jenis sampah tersebut ditaruh dalam dua wadah yang berbeda. Tujuannya agar tidak tercampur dan malah akan merepotkan petugas sampah saat milahnya nanti. Jika sudah dipilah, nantinya petugas pengumpul sampah langsung memasukan ke dalam wadah-wadah tersendiri untuk diangkut ke TPS/TPA. 

Petugas pengumpul sampah sedang melakukan pemilahan sampah
Petugas pengumpul sampah sedang melakukan pemilahan sampah. Dok. ZWC Bandung.

Jika kurang jelas, berikut adalah infografis pemilahan sampah (klik kanan > open in new tab, untuk memperbesar).
Pemilahan sampah untuk lingkungan yang bersih dan sehat
Pemilahan sampah untuk lingkungan yang bersih dan sehat. Infografis : ypbbblog.blogspot.com

Pada infografis di atas, pemilahan dibagi menjadi 4 bagian. Namun menurut video yang saya tonton di channel yppbb, baiknya dibuat 2 bagian saja yaitu sampah basah dan kering, agar warga dan petugas pengumpul sampah tak terlalu repot melakukannya.

Memangnya, apa sih output atau keuntungan yang di dapat dari program Zero Waste Cities ini? 

Tentu saja ada banyak. Namun berikut 5 poin yang bisa saya bagikan. 

1. Menggerakan masyarakat untuk disiplin memilah sampah. Masyarakat jadi seperti dipaksa melakukan hal baik dan positif yang imbasnya kembali ke masyarakat itu sendiri. Yaitu lingkungan bersih dan sehat bebas sampah. 

2. Mengurangi pengangkutan sampah ke TPA/TPS. Hal ini sudah terbukti di 2 kota yaitu Bandung dan Cimahi. Di Bandung, pengurangan sampah ke TPA berkurang hingga 23,13%. Sementara di Cimahi 38%. 

3. Pengelolaan sampah menjadi lebih mudah karena petugas pengumpul sampah tak perlu repot memilah kembali sampah. 

4. Menghidupkan kembali siklus alam. Pengomposan yang dilakukan akan menghasilkan pupuk yang dapat digunakan untuk memupuk tanaman. Sehingga dapat mengurangi pengeluaran harian seperti membeli sayuran biarpun hanya sedikit. Makanan yang kita buang akan menjadi pupuk dan akan diubah menjadi makanan kembali. Jadi muter gitu. Dan yang terpenting tak perlu lagi membeli pupuk dan dapat menghindari pupuk kimia yang tidak sehat.   

Sayuran organik hasil pemupukan di area ZWC
Salah satu manfaat ZWC adalah menghidupkan kembali alam. Makanan yang kita buang diubah kembali menjadi makanan dan begitu seterusnya. Dok. ypbb 

5] Meringankan beban petugas kebersihan dan mendukung kesejahteraan baik dalam kesehatan, ekonomi, dan pekerjaan. Untuk poin ini ada 3 manfaat penting yang bisa didapat. Di antaranya : 

1. Mendukung kesehatan  

Kata Mbak Anilawati dalam live webinar kemarin, manfaat ZWC untuk petugas pengumpul sampah yaitu, bahwa petugas tidak diset untuk memilah, tapi warga di dorong memilah, sehingga meringankan pekerjaan petugas pengumpul sampah. 

Mbak Anilawati yang pernah bertanya langsung ke petugas pengumpul sampah yang sering berangkat kerja naik angkot dan orang-orang di angkot sering kayak ilfill karena aroma bajunya, sekarang jadi lebih bersih setelah adanya pemilahan di ZWC ini. Ini manfaat secara langsung yang didapat oleh petugas pengumpul sampah.  

Nah, kalau menurut Mas Ryan yang merupakan petugas lapangan, saat webinar kemarin ia menuturkan bahwa beban roda gerobak sampah juga jadi lebih ringan karena sampah organiknya tidak lagi dibawa ke TPS. Baju petugas yang biasanya ganti setiap hari, setelah adanya ZWC ini, 2 hari baru ganti. Jadi lebih bersih gitu. 

Lalu manfaat lain yang didapat yaitu, bahwa pemilahan sampah begitu penting dilakukan setelah kejadian dua petugas pengumpul sampah di area ZWC Bandung yang meninggal akibat infeksi terkena sampah berupa tusuk sate. Yaitu Bapak Hermawan dan Bapak Udung. Ini menjadi pelajaran penting dengan adanya ZWC ini. 

Pak Udin yang merpakan rekan kerja kedua almarhum, juga menuturkan, bahwa pemilahan sampah dari sumbernya begitu mendukung pekerjaannya. Terutama dalam hal keselamatan. 

Awalnya ia menolak dengan program Zero Waste Cities ini. Tapi setelah jatuh sakit, ia berpikir kembali bahwa program ini akan membantunya dalam hal kesehatan. Ia berpesan kepada masyarakat bahwa sudah ada dua rekannya yang meninggal akibat sampah tercampur, jadi ia meminta tolong agar ia jangan sampai bernasib sama dengan mereka. Yaitu dengan ketaatan masarakat memilah sampah dari rumah.

2. Mendukung kesejahteraan ekonomi 

Petugas juga bisa ambil keuntungan dari menjual barang bekas yang sudah dipilah warga. Kemudian berkat adanya ZWC ini, pengangkutan ke TPS juga bisa berkurang dari 3x seminggu jadi 2x karena pengomposan dilakukan di sumbernya. Untuk penghasilan, petugas di 2 kelurahan yaitu di Bandung yaitu Cihaurgeulis dan Sukamiskin, juga mendapat insentif atau gaji tambahan dalam program ZWC ini dari pemerintah melalui DLHK. Imbuh Mas Ryan. 

3. Memudahkan pekerjaan 

Jika masyarakat mengelola sampah dengan bijak semisal dengan melakukan pemilahan dalam wadah-wadah terpisah, tentu dapat meringankan beban pekerjaan petugas pengumpul sampah. 

Petugas bisa langsung memasukkannya ke dalam wadah-wadah yang sudah disediakan. Mana sampah organik dan mana yang bukan organik. Sehingga saat sudah sudah di pusat pengumpulan, mereka tidak perlu lagi memisahkannya. Untuk sampah yang sekiranya dapat dijual, mereka bisa langsung menjualnya tanpa harus repot memilah dan memilihnya lagi. 

Artinya, ini akan mempermudah pekerjan petugas pengumpul sampah karena tidak perlu lagi ada proses pemilahan yang akan menimbulkan bau tidak sedap kepada petugas tersebut. Sehingga badan lebih sehat. Jika badan sehat, maka bekerja pun lebih semangat. 


Petugas pengumpul sampah Kang Juhana

Kang Juhana, petugas pengumpul sampah di RW , Padasuka, Cimahi. Dengan program Zero Waste Cities, kita bisa mendukung kesejahteraan petugas pengumpul sampah. Foto : http://ypbbblog.blogspot.com

Ya, itulah manfaat ZWC bagi petugas pengumpul sampah. Lagian memilah sampah itu cukup mudah karena hanya dengan menyediakan wadah seperti ember bekas atau kaleng bekas. Dengan memilah sampah, kita bisa membantu petugas pengumpul sampah untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik dari berbagai sisi. Repot sedikit tak masalah kan demi meringankan beban orang lain. Eh tapi enggak repot sih sebenernya. 

Nah, karena di tempat saya belum ada program seperti ini, pengelolaan sampah dari kawasan yang saya lakukan pun secara mandiri di rumah. Yaitu dengan membuat ember komposter pengubah sampah menjadi pupuk. Sehingga mulai sekarang saya tak lagi membuang sampah. 

Jadi, sampah rumah tangga seperti sisa sayuran dapur, saya masukan ke dalam sebuah alat pengubah sampah menjadi pupuk organik cair, yaitu komposter. 

Ide membuat komposter ini sudah cukup lama dibenak saya. Namun baru kali ini terealisasi. Dulu sewaktu kunjungan ke Banyumas dalam rangka liputan blogger, saya melihat seorang narasumber memiliki komposter ini untuk mengubah sampah menjadi pupuk. Dan saya pun jadi berinisiatif untuk menirunya. 

Ini merupakan ide yang bagus karena dapat menghilangkan sampah tanpa mencemari lingkungan. Oleh sang narasumber, pupuk tersebut digunakan untuk memupuk tanaman di rumahnya, selain untuk dijual. Satu botol pupuk ukuran botol air mineral dijual seharga 3000 rupiah. 

Komposter pengubah sampah jadi pupuk
Komposter pengubah sampah jadi pupuk. Dokpri

Untuk membuatnya pun sangat mudah. Yang dibutuhkan hanya dua buah ember cat besar ukuran 18 kg lengkap dengan tutupnya. Harus ada tutupnya ya karena memang berfungsi nantinya. 

Kemudian kita butuh keran galon juga karena keran ini beda bentuknya dengan keran air pada umumnya. Keran galon ini memiliki dua buah karet yang berfungsi untuk mencegah kebocoran cairan.

Keran galon
Gunakan keran galon karena ada karet perekatnya. Dokpri

Untuk ember bekas ini saya beli di toko bangunan seharga 25 ribu dan kerannya 12 ribu. Kalau kalian punya di rumah, bisa dimanfaatkan saja.  Dan berikut langkah-langkah pembuatannya : 

1] Satu buah ember kita lubangi bagian sisi bawahnya dengan ukuran yang sekiranya ngepres atau pas dengan lubang keran, dan jangan terlalu longgar. Karena kalau longgar bisa bocor. 

2] Masukan keran tadi dengan cara diputar sampai mentok, lalu masukkan pasangannya pada uliran di bagian dalamnya. Kasih lem fox atau lem akuarium agar tidak bocor. Kalau saya pakai lem fox. Sampai di sini, ember untuk menampung cairan (ember bawah) pupuk sudah jadi ya. Tinggal buat untuk yang menaruh sampahnya. 

3] Setelah itu lubangi tutup ember bawah (yang ada kerannya) sebagai tempat temumpang (menaruh) ember atas (ember sampahnya). Namun melubanginya jangan sampai mentok ke sudut. Hal ini dimaksudkan agar ember atas tidak njeblos ke bawah. 

Ember komposter
Lubangi tutup ember bawah seperti ini agar ember atasnya tidak njeblos saat ditaruh nanti. Dokpri

4] Untuk ember atas, lubangi bagian dasar ember dengan jumlah banyak menggunakan bor atau besi panas agar cairan pupuknya bisa menetes ke bawah. 

Ember komposter
Lubangi bagian dasar ember atas agar pupuk cairnya bisa netes ke bawah. Dokpri

Jika masih bingung, ini video tutorialnya.

Dan akhirnya komposter pun jadi. Pupuk cair lindi ini bisa diambil dalam waktu 3 hari, seminggu, atau sekiranya sudah cukup untuk dipanen. Oiya, tambahkan air gula pasir sekitar 1 gelas untuk membantu fermentasi. Kalau untuk yang saya lihat saat liputan, dikasih bakteri fermentasi dalam botol gitu sih. Dan nantinya untuk satu botol air mineral ukuran tanggung, bisa dicampur ke 1 ember air dan disiramkan ke tanaman. 

Menurut video yang tonton sih begitu. Karena saya baru saja membuatnya, jadi belum bisa panen hasilnya. Namun saya optimis ini akan berhasil karena banyak orang sudah membuktikannya dan saya pasti bisa. 

Dengan cara ini, sudah hampir semingguan saya tak buang sampah dan lingkungan rumahku jadi bersih hihi. Selain itu nantinya saya juga bisa menghasilkan pupuk organik yang sehat untuk bercocok tanam. Kebetulan saya punya banyak pohon cabai di samping rumah.

tanaman cabai
Ini lho tanaman cabaiku disamping rumah. Dokpri

Pupuk cair organik ini penting bagi saya karena saya sangat menghindari bahan kimia. Makanan yang kita makan setiap hari saja sudah terkontaminasi  bahan kimia melalui pupuk yang digunakan petani, tentu saya tidak mau menambahinya lagi dong ya. Dan jika nanti sudah panen pupuk ini, saya berniat menjualnya, selain untuk digunakan sendiri. Tentu ini akan jadi pemasukan sendiri buat saya. 

Ini lho pupuk cair yang nantinya akan saya panen. Ini adalah foto saat saya liputan melihat langsung komposter penghasil pupuk lindi. Pupuk seperti inilah yang akan saya hasilkan dari komposter yang saya buat. Dokpri. 

Bagaimana, menarik sekali, bukan? Kalian pun bisa mencobanya di rumah. 

Ngomong-ngomong, mengapa sih kita harus menerapkan zero waste lifestyle ?

Ada begitu banyak alasan mengapa kita harus me-nol-kan sampah dengan bergaya hidup zero waste lifestyle. Selain karena TPA seperti di atas saya tuliskan akan penuh pada 2021 ini, berikut beberapa alasan lainnya : 

Zero Waste Lifestyle Infografis

1] Masalah lingkungan dan kesehatan

Tentu kita sepakat bahwa keberadaan sampah begitu mengganggu lingkungan. Sampah yang berserakan akan menimbulkan bau tidak sedap dan merusak pemandangan. Aroma yang ditimbulkan juga dapat menggangu kesehatan jika terus menerus terhirup. Saya pernah melihat sebuah tayangan televisi mengenai seorang anak yang terganggu perkembangan fisiknya karena tinggal di lingkungan dekat pembuangan sampah. 

Ada juga cerita dari seorang petugas sampah bernama Pak Udin yang telah bekerja selama 20 tahun di area ZWC Bandung. Karena terus menghirup aroma tidak sedap dari sampah, ia mengalami penyumbatan darah di otak yang membuatnya tidak bisa bekerja selama satu bulan. Oleh dokter, penyakit tersebut dikarenakan ia terpaksa berjibaku dengan aroma sampah setiap harinya. 

Ini lho foto Bapak Udin yang saya katakan di atas. Petugas pengumpul sampah di RW 09 Kelurahan Sukaluyu, Bandung, yang beberapa kali jatuh sakit karena menghirup aroma sampah yang tidak sedap. Ia juga pernah mengalami penyumbatan di otak akibat menghirup aroma sampah setiap harinya. Dok. YPBB Bandung

Selain itu, sampah berupa mikroplastik juga dapat masuk ke mahluk hidup. Baik hewan, tumbuhan, hingga manusia. Ia dapat masuk ke buah-buahan, sayuran, hewan, air mineral, hingga placenta manusia dalam tubuh janin. Yang mana bisa kita ketahui bahwa placenta adalah saluran yang berfungsi memberikan nutrisi kepada sang janin dalam kandungan seorang ibu. 

Bayangkan coba, masa plastik sampai ke tubuh manusia? 

Janin yang seharusnya mendapatkan cukup oksigen dari plasenta, menjadi terhalang karena plastik. Mikroplastik tentu saja tidak muncul begitu saja. Hal ini tidak lain karena penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari kita.  

2] Menghindari bencana seperti tragedi Leuwigajah hingga banjir 

Sampah yang dibuang ke parit, selokan, got, hingga sungai, dapat menyumbat aliran air. Sehingga saat musim hujan tiba, ia dapat menyumbat aliran sungai dan menyebabkan banjir. Jika sudah begitu maka yang dirugikan adalah manusia itu sendiri. Banjir telah banyak menyisakan duka mendalam. Dari mulai kerugian materi, kesehatan fisik, hingga duka yang mendalam. Dan seperti di atas saya ceritakan, tragedi hilangnya dua kampung di Cimahi akibat sampah begitu menyisakan duka yang mendalam.  

3] Menyelamatkan kehidupan laut

Laut penuh sampah
Laut yang penuh sampah di Desa Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (8/6). ANTARA FOTO/Aji Styawan

Ada banyak sekali sampah yang terbuang ke laut dan mengancam kehidupan di dalamnya. Bukti betapa hobinya masyarakat Indonesia suka buang sampah sembarangan adalah ditemukannya ikan hiu jenis Sperma yang mati terdampar di perairan Pulau Kapota Resort Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Di dalam perut paus sepanjang 9,5 meter dan lebar 4,37 meter tersebut, terdapat total 5,9 kg sampah. 







Bangkai paus sperma yang penuh dengan plastik. Foto : https://regional.kompas.com

Sampah-sampah tersebut seperti gelas plastik (750 gram), talir rafia (3.260 gram dengan lebih dari 1000 potong), karung nilon 200 gram (1 buah), sandal jepit 270 gram (2 buah), serpihan kayu sebanyak 740 gram (6 buah), kantong plastik 260 gram (25 buah), botol plastik sebanyak 150 gram (4 buah), dan plastik keras sebanyak 140 gram (19 buah). 

Bayangkan coba, jika hiu saja bisa memakan sampah sebanyak itu, itu artinya laut kita sangat kotor. Betapa minimnya kesadaran masyarakat kita akan kebersihan lingkungan. 

4] Agar tidak menjadi contoh buruk  bagi orang lain 

Jangan buang sampah sembarangan

Mungkin kita pernah melihat orang buang sampah sembarangan. Mengapa sih orang harus buang sampah sembarangan? Padahal tempat sampah sudah ada di depan mata. Jika memang belum menemukan tempat sampah, apa susahnya menyimpan dulu dan buang setelah menemukan tempat sampah? Lebih bijak lagi jika kita memilahnya. Mana yang sampah organik dan mana yang bukan. Perilaku membuang sampah sembarangan dapat menjadi contoh buruk bagi orang lain. 

Padahal mindset seperti itu tidak benar. Apalagi jika yang melihat adalah anak-anak, maka bisa jadi ia akan menirunya. Tapi sebaliknya, jika kita memberikan contoh baik dengan tidak membuang sampah sembarangan, tentu akan jadi contoh baik untuk semua orang. 

Untuk saya sendiri, saya hampir tidak pernah membuang sampah sembarangan. Jika memang belum menemukan tempat sampah, saya menyimpan dulu dalam tas atau kantong. Bahkan saya bawa pulang agar tidak ada sampah berceceran. 

5] Beberapa tekhnologi dengan system pembakaran sampah dan daur ulang ternyata belum menjadi solusi, tapi justru memunculkan masalah baru.

Penemuan-penemuan baru akan tekhnologi yang dapat mengatasi masalah sampah, justru malah menimbulkan efek berbahaya bagi kehidupan manusia. Contohnya seperti insinerator. Sebuah tekhnologi canggih yang menggunakan sytem pembakaran yang dapat mengubah sampah menjadi energi. Namun ternyata pada proses pembakarannya, akan menghasilkan abu yang berbahaya bagi mereka yang tinggal di sekitar daerah tersebut. 

Insinertor yang ternyata belum memberikan solusi atas sampah yang semakin banyak. Foto : http://ypbbblog.blogspot.com

Penemuan terkait tekhnologi jenis pembakaran ini telah diungkapkan oleh GAIA (Global Alliance for Incinerator Alternatives) mengenai insinerator yang beroperasi di Eropa. Ternyata insinerator menghasilkan polutan berupa dioxin yang merupakan zat paling berbahaya bagi manusia. Selain itu jumlah mesin yang banyak akan menimbulkan pemikiran baru bagi masyarakat untuk menyampah lebih banyak. 

Di Indonesia sendiri, tekhnologi pembakaran juga sudah mulai dioperasikan. Misal seperti ITF (Intermediate Treatment Facility) di beberapa TPA di Jakarta. Kemudian Refused Derived Fuel (RDF) di TPA Jeruklegi Cilacap. Lalu ada PLTSa TPA Jatibarang di Semarang. Dan PLTSa Benowo di Surabaya, serta “Tungku Ajaib” di Kabupaten Bandung.

Sedangkan untuk metode daur ulang, mungkin kalian pernah melihat simbol berupa panah memutar membentuk segitiga yang terdapat pada bagian bawah suatu wadah, misal botol air mineral. Ini merupakan simbol dimana plastik dapat didaur ulang menjadi plastik kembali. Namun pada faktanya, plastik tidak bisa didaur ulang kembali menjadi plastik. 

Hal ini telah kemukakan oleh media NPR dan PBS Frontline setelah menelusuri lebih dalam dari industri terkait. Industri-industri menggelontorkan sejumlah dana untuk berkampanye bahwa plastik dapat didaur ulang menjadi plastik, ternyata hanya fantasi belaka. 

Pada tahun 1989 lalu, banyak industri plastik yang berkampanye secara diam-diam tentang simbol ini, yang membuat banyak aktivis lingkungan pun menyetujuinya dengan pertimbangan bahwa simbol ini akan lebih mudah dalam proses pemilahan dan daur ulang. Pendekatan berupa Build first, sell now, protect health later lah yang mendasari banyak industri untuk menjual berbagai macam produk mereka. Namun faktanya sampah plastik tidak dapat didaur ulang menjadi plastik kembali.

6] Meringankan beban petugas pengumpul sampah. Dengan menerapkan gaya hidup minim sampah, tentu kita mendukung kesejahteraan para petugas pengumpul sampah. Beban gerobak mereka akan lebih ringan. Badan jadi lebih sehat dan bersih dari paparan aroma sampah yang keluar. 

======================================================

Pada akhirnya, sampah hanya akan merugikan semua makhluk hidup. Bukan hanya manusia, tapi hewan dan tumbuhan juga kena imbasnya. Tekhnologi peleburan sampah dan metode daur ulang seperti di atas saya ceritakan, ternyata juga belumlah menjadi solusi. Di tambah beban TPA yang sebentar lagi akan penuh, mau dikemanakan lagi jika sampah di rumah sudah penuh? 

Solusinya adalah dengan menerapkan zero waste lifestyle, terutama untuk Anda yang tinggal di daerah yang belum mendukung ZWC. Yaitu gaya hidup minim sampah dengan mengelola dan memilah sampah dari rumah dan jangan buang sampah sembarangan. Namun akan lebih bijak lagi jika mau sedikit kreatif dengan mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat. Misal seperti komposter penghasil pupuk baik kompos atau cair, mengubahnya menjadi kerajinan, sebagai pot tanaman, dan lain sebagainya. Selain lingkungan menjadi bersih, beban angkut sampah ke TPA juga akan berkurang. 

Pihak lain yang juga di untungkan yaitu petugas pengumpul sampah karena pemilahan sudah dilakukan dari sumbernya. Baik dari segi kesehatan karena tak perlu lagi “membongkar” sampah yang menimbulkan bau tak sedap. Juga untuk sampah layak jual, petugas tinggal memasukannya saja ke dalam kantong dan bisa langsung dijual tak perlu memilah lagi.

Akhirnya, mari sama-sama kelola sampah dari rumah agar lingkungan bersih, sehat, dan kehidupan yang lebih sejahtera. Tidak perlu menunggu hadirnya Zero Waste Cities ini. Karena aksi nyata jauh lebih baik untuk lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Salam kompak pilah sampah dari rumah. 


Sumber referensi artikel : 

http://ypbbblog.blogspot.com

https://jabar.idntimes.com/news/jabar/bagus-f/kesaksian-wahyudi-di-malam-ketika-157-orang-tewas-tertimbun-sampah/5

https://tirto.id/atraksi-wisata-laut-ancam-kehidupan-hiu-paus-cjs7 

https://regional.kompas.com/read/2011/02/21/20382467/Leuwigajah.Kami.Takkan.Lupa 

https://www.npr.org/2020/09/11/897692090/how-big-oil-misled-the-public-into-believing-plastic-would-be-recycled 

https://www.no-burn.org/europewasteburning/ 

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0160412020322297#f0015 

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Sukses Membuat Komposter Pengubah Sampah jadi Pupuk Sebagai Dukungan Gerakan Zero Waste Cities dari Rumah "