Dayamaya, Solusi Membangun Daerah 3T Lewat Internet

Indonesia adalah negara kepulauan. Dan Pulau Jawa adalah Pulau yang dibilang paling maju secara ekonomi. Pusat pemerintahan dan pusat bisnis ada di Pulau Jawa. Tekhnologi juga sangat berkembang di Pulau Jawa. Berbagai macam fasilitas dan infrastruktur seperti jalan tol, juga sangat berkembang di Pulau Jawa. Untuk soal tekhnologi jangan ditanya lagi. Jika saya tebak, semua prodiver internet berpusat di Pulau Jawa. Pusat dagang digital (e-commerce), institusi pendidikan ternama, tempat wisata, juga sangat banyak dan maju di Pulau Jawa. Oleh karenanya, masyarakat Pulau Jawa pun sangat dimanjakan dengan hal ini. 

Namun begitu, ternyata dibalik kemajuan tersebut, masih banyak sekali saudara-saudara kita di luar sana yang tidak seberuntung kita menikmati perkembangan ini. Padahal sumber daya alamnya sangat potensial mendatangkan berbagai keuntungan. Salah satunya yaitu pendapatan dari sektor pariwisata. 


Sumber foto : https://www.instagram.com/p/Bb4DhM8HRds/

Foto di atas adalah sebuah tempat wisata di Pulau Alor. Wisata yang sangat menarik yang membuat orang sangat tertarik untuk berkunjung. Namun sayang disayang, Pulau Alor adalah sebuah Pulau di NTT (Nusa Tenggara Timur) yang membutuhkan sentuhan tekhnologi untuk mengembangkan pariwisatanya. Pulau ini masuk dalam daftar kategori pulau yang menjadi sasaran program dayamaya karena masuk dalam daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal)

Apa itu program dayamaya?

Dayamaya adalah sebuah program yang mengajak para pelaku Startup ecommerce, Komunitas, Kelompok Masyarakat, dan UMK digital untuk bersinergi dan bersama-sama mengembangkan daerah 3T agar dapat terus berkembang layaknya daerah lain yang sudah maju. 

Pemerintah melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementrian Komunikasi dan Informatika, melaksanakan program Dayamaya. Melalui program ini, nantinya para Startup dan UMKM yang tergabung dapat mempercepat pembangunan di daerah 3T. Untuk saat ini sudah ada 18 inisiatif yang terpilih. Dan 3 di antaranya sudah berkontribusi baik untuk daerah 3T tersebut. 

Nantinya pemilik Startup atau inisiatif yang terpilih akan mendapatkan beberapa fasilitas seperti pelatihan SDM, eksekusi survey pasar, infrastruktur teknologi, sosialisasi & pemasaran, untuk bersama-sama mendorong adopsi serta pemanfaan internet oleh masyarakat guna mewujudkan potensi dan memberikan solusi kepada setiap daerah, sampai ke pelosok negeri.

Untuk 3 inisatif yang terpilih ini diantaranya yaitu Atourin, Cakap, dan Jahitin. Kita bahas satu persatu. 

Atourin 

Atourin, seperti namanya, Atourin  adalah sebuah jasa layanan digital untuk bidang pariwisata baik secara online ataupun offline, yang pada 2019 kemarin telah berkontribusi dengan memberikan pelatihan dan sertifikasi kepada para pemandu wisata di daerah Natuna melalui program dayamaya. Hasilnya, saat ini sudah ada 10 pemandu wisata yang berlisensi dan lebih berani melakukan branding diri dan mulai memanfaatkan jejaring sosial media untuk berpromosi. Dan diharapkan nantinya akan lebih banyak lagi pemandu wisata yang memiliki lisensi.

“Di masa pandemi ini, salah satu satu program kami yaitu melakukan pelatihan secara daring bagi pemandu wisata se-Indonesia. Kami ajarkan bagaimana cara membuat tur virtual. Salah satu sektor yang paling terdampak akibat pandemi adalah pariwisata. Dengan pelatihan ini, diharapkan pemandu wisata dapat memanfaatkan internet untuk menghadirkan layanan virtual tour baik kepada wisatawan dalam negeri maupun mancanegara” kata Reza.  

Reza juga melanjurkan bahwa tour virtual ini merupakan platform baru yang bermanfaat untuk promosi jangka panjang, bukan hanya saat pandemi corona saja. 

Cakap

Inisiatif yang kedua yaitu dari Startup penguasaan bahasa asing untuk meningkatkan skill dan ketrampilan bahasa di daerah 3T, guna mendukung berkembangnya suatu daerah wisata. Dengan perantara bahasa asing terutama bahasa Inggris ini, diharapkan wisatawan terutama turis asing akan semakin banyak berdatangan. 

Untuk kontribusinya, Cakap ini juga telah menyelenggarakan digital assesment di Kabupaten Sabu Raijua dan Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan menggunakan standarisasi CEFR (The Common European Framework of Reference for Languages). 

Program ini telah melibatkan cukup banyak peserta, yakni 250 peserta setingkat SMA.  Kegiatan ini dilakukan secara daring melalui sebuah kelas online dan di isi langsung oleh guru bahasa Inggris (ESL Teacher). 

Menurut CEO Cakap yaitu Tommy Yunus, kemampuan berbahasa asing ini sangat penting karena akan mendukung pariwisata berkelanjutan dan juga mempengaruhi jumlah pengunjung yang datang. 

“Di masa pandemi ini kami menggelar program pelatihan secara daring bagi penggiat dan pelaku pariwisata yang tentu saja difasilitasi oleh BAKTI, Kementerian Pariwisata dan pemerintah daerah. Cakap selaku mitra platform pembelajaran memberikan kesempatan kepada masyarakat pelaku industri pariwisata untuk belajar bahasa Inggris secara gratis. Untuk menjadi peserta dapat  mendaftar dengan mengakses website resmi Cakap. Sejauh ini sudah ada beberapa daerah yang mendaftar yaitu Kalimantan Selatan, Maluku Utara, Sulawesi Utara dan Bangka Belitung. Sulawesi Utara dan Kalimantan Selatan sebagai daerah terbanyak yang mendaftar menjadi peserta” kata Tommy. 

Menurut Tommy, peserta nantinya akan mendapatkan akses pembelajaran berupa tatap muka melalui webinar, ebook, video pembelajaran, dan kuis untuk mengevaluasi seperti apa peningkatan para peserta selama program berlangsung. Kemudian juga ada pendampingan oleh guru proffesional dan mendapatkan sertifikat di sessi akhir pembelajaran. 

Jahitin 

Sesuai namanya, Jahitin adalah startup dalam dunia jahit menjahit pakaian. Dalam konteks ini, Jahitin telah berkontribusi dengan memberikan pelatihan kepada masyarakat di Provinsi NTT, khususnya di daerah Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Lewat workshop pengolahan limbah tenun, Jahitin memberikan pelatihan bagaimana mengolah limbah tenun dan mengubahkan menjadi produk ekonomis yang memiliki nilai jual. Contohnya seperti membuat cushion pillow.

Bukan itu saja, Jahitin Academy juga membantu para penjahitnya agar lebih mudah mengakses pasar dan dapat langsung terhubung dengan dinas perdagangan. 

“Di masa pandemi kami melakukan pelatihan kepada para penjahit, bagaimana cara membuat masker sesuai dengan standar kesehatan yang difasilitasi oleh BAKTI dan Kementerian Desa, dan Pemberdayaan Daerah Tertinggal. Hasilnya, para penjahit di Sumba berhasil mendapatkan orderan membuat 5000 masker,” kata Asri Wijayanti.

Akhirnya, sebagai bangsa yang baik dan berkadilan dan pemerintah juga tidak bisa bekerja sendiri, peranan startup dalam mengembangkan suatu daerah juga tak kalah penting agar kemajuan suatu daerah di titik-titik tertentu dapat dipercepat.  Karena kemajuan suatu daerah bukan hanya di kota besar saja. Dan bersama dayamaya, mari bersama-sama wujudkan Indonesia maju. 

Subscribe to receive free email updates:

6 Responses to "Dayamaya, Solusi Membangun Daerah 3T Lewat Internet "

  1. Bagus, Mas, program Dayamaya. Semoga memajukan bangsa, terutama daerah terluar Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas. Idenya begitu unik dan solutif. Dan sudah terbukti meningkatkan skill mereka yang tinggal di daerah 3T

      Hapus
  2. Sayang ya Mas, daerah 3T dengan sumber daya alam yang masih terjaga dan indah tapi nggak di iringi dengan Infrastruktur yang memadai jadi masih belum terjamah wisatawan.

    BalasHapus
  3. Diharapkan dengan adanya program Dayamaya ini, pemerataan makin menjangkau seluruh pelosok negeri ya mas.

    BalasHapus
  4. wah ide yang top 👍 gan progamnya membangun daerah lanjutkan 🙏

    BalasHapus
  5. Ide idenya hebat juga ya. Diantara sedang pendemi begini memang harus ada orang orang yang bisa memecah kebuntuan adanya efek pandemi. Memecah kebuntuan ekonomi yg melempem

    BalasHapus