Mengapa Daerah 3T Butuh Campur Tangan Para Sarjana ?

Anak-anak sekolah di daerah tertinggal di Kalsel sedang menantang maut dengan melewati jembatan berbahaya. Dok. Tribunnews via http://jadiberita.com

Sebelum mulai membaca, ada sebuah quote keren untuk kalian para sarjana di bawah ini.



Berkaitan dengan quote pada gambar diatas, saya akan sedikit bercerita tentang seorang pemuda inspiratif yang lahir dari sebuah daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. 

Adalah Hasan, seorang sarjana lulusan Universitas Negeri Makassar (UNM) di Fakultas Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi. Ia masuk kuliah tahun 2009 dan selesai tahun 2013. Setelah lulus S1, ia mendapatkan beasiswa LPDP untuk pendidikan S2 nya dari Kementrian Keuangan di Universitas Negeri Jakarta pada Fakultas Pendidikan Olahraga pada tahun 2015 dan lulus tahun 2017. 

Pendidikan tinggi, pekerjaan bergengsi dengan gaji tinggi, tentunya merupakan dambaan banyak orang. Namun di balik ilmu seorang sarjana, pastinya akan lebih bermanfaat lagi jika di tularkan kepada orang banyak, terutama masyarakat di kampung halamannya yang mungkin saja masih tertinggal.  Dan kabar baiknya hal itu pun di lakukan oleh Hasan. 

“Kalau bicara finansial, secara materi saya sudah dapatkan di Jakarta. Saya sempat bekerja di Bappenas dengan gaji yang sangat lumayan. Namun karena prihatin, saat melihat kondisi kampung halaman, saya lalu memutuskan kembali mengabdi ke kampung,” ungkapnya.

Kegelisahan akan kampung halamannya di Dusun Lemo Baru, Desa Kuajang, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat ini, menggugah hatinya untuk pulang kampung dan membuat perubahan. Hal itu latarbelakangi oleh banyaknya anak-anak putus sekolah di daerahnya

Foto Hasan sedang mengajar anak-anak di daerahnya yang masih tertinggal. Foto: Asrianto Suardi/SINDOnews
Bagi orang-orang tertentu yang tergugah hatinya seperti Hasan, gaji tinggi dan kemapanan akan terasa kurang manfaatnya jika kondisi kampung halamannya ternyata masih tertinggal jauh dan butuh sentuhan para pemikir. 

Perubahan yang dilakukan oleh Hasan untuk kampung halamannya yaitu dengan membangun “Kampung Pendidikan” yang di mulai pada Juli 2017, namun baru efektif baru April 2018 tahun lalu. Walaupun tak ada biaya dan fasilitas, namun tak menyurutkan langkahnya untuk terus maju. 

Disini, anak anak di didik dengan berbagai macam pelajaran. Seperti Bahasa Inggris, komputer, agama, ceramah, mengaji, menari, dan pelajaran-pelajaran lainya. 

“Mulai sore hingga malam hari, kemudian kalau hari minggu kami tambah ekstra menari dan seni,” ungkap Hasan dikutip dari situs kompas.com via bandungkita.id.

Awalnya peserta didik yang ikut hanya sekitar 30 an orang. Namun setelah berjalan hampir satu tahun, peranannya mulai dirasakan warga, dan muridnya pun bertambah menjadi 150 orang. 

Karena kontribusinya positifnya terhadap perkembangan desanya, Hasan pun banyak mendapat simpati dari masyarakat dan pemerintah, hingga di nobatkan sebagai tokoh pemuda pelopor prestasi di bidang pendidikan tingkat nasional yang di gelar oleh Kemenpora pada 18 Oktober 2018 lalu. 

Sebelumnya, kampung pendidikan ini juga masuk nominasi setelah melewati  penyeleksian tingkat kabupaten dan provinsi. Terdapat lima bidang lomba yang di gelar pada event ini. Yaitu pendidikan, agama, sosial budaya, pangan, sumber daya alam lingkungan dan pariwisata, dan inovasi teknologi. Dan akhirnya kampung pendidikan ini pun masuk tiga besar mewakili Sulawesi Barat. Dan berikut adalah video saat Hasan mengajar di kampung halamanya. 


Dari kisah diatas, kita semua tahu bahwa sarjana terbaik adalah mereka yang pulang kampung dan melakukan perubahan. Walaupun di kehidupannya saat itu, ia cukup mapan dan sukses. Karena sejatinya manusia akan lebih bermanfaat jika kehidupannya dapat bermanfaat untuk orang lain. 

Lulus sarjana ? pulanglah ke kampung halaman dan buat perubahan. Dok. hipwee.com
Daerah 3T adalah daerah terdepan, terluar dan tertinggal. Umumnya di daerah 3T, fasilitas dan infrastruktur akan sulit di dapatkan karena lokasinya yang jauh dari pusat kota. Seperti minim atau bahkan tidak adanya listrik, sekolah, tempat ibadah, kondisi jalan yang masih kurang mendukung, jauh dari pusat perbelanjaan, minimnya fasilitas kesehatan, dan lain sebagianya. Sehingga masyarakatnya pun banyak mengalami kendala dalam menjalani kehidupannya. 

Lalu, seperti apa dan bagaimana peran para sarjana dalam membangun mengembang kampung halamannya yang masuk daerah 3T ? 

Kembali ke kampung halaman untuk membuat perubahan. Dok. ppi-hamburg.de
Saya berasumsi dan yakin bahwa walaupun masuk kedalam daerah 3T, pasti ada segelintir masyarakatnya yang berhasil mengenyam pendidikan hingga lulus sarjana, contohnya seperti Hasan. Nah, buat kalian para sarjana (apapun disiplin ilmunya) yang kebetulan tinggal di daerah 3T, setelah lulus, pulanglah ke kampung halaman dan buatlah perubahan. Berikut adalah 7 jenis sarjana yang barangkali ilmunya cocok untuk mengembangkan daerah asalnya masih dalam area 3T.



Calon sarjana ilmu pendidikan. Dok. https://unnes.ac.id
Kita semua tahu bahwa pendidikan itu sangat penting. Segala sesuatu dapat berubah karena pemikiran yang lahir dari seorang yang berilmu. Makanya ilmu itu sangat penting untuk perkembangan suatu wilayah. 

Salah satu ciri dari daerah 3T adalah minimnya fasilitas pendidikan, contohnya seperti sekolah. Peran sarjana pendidikan disini sangat penting. Seorang lulusan sarjana pendidikan bisa melakukan seperti yang di lakukan Hasan pada cerita di atas. 

Kalian bisa membangun kampung pendidikan dan memberikan tambahan pelajaran kepada anak-anak sekolah ataupun yang barangkali putus sekolah agar lebih pintar dan menjadi manusia yang lebih berkualitas, sehingga bisa lebih bersiap bersaing dengan masa depan. 



Calon sarjana ilmu pertanian. Dok. https://infokampus.news/wp-content/uploads/2018/01/Kuliah-Pertanian-Jadi-Apa.jpg
Untuk sarjana pertanian, kalian bisa mengamalkan ilmunya kepada masyarakat di daerah 3T yang memiliki mata pencaharian pertanian. Sarjana pertanian adalah intelektual yang memiliki ilmu lebih dalam bidang pertanian. Mereka bisa mengajarkan bagaiamana menanam yang baik, tentang budidaya pertanian, ilmu tentang tanah, cara pengendalian hama, dan agribisnis.  

Mereka juga dibekali ilmu tentang bagaimana memanfaatkan sumber daya yang ada untuk pertanian, misal pertanian tanpa media tanah seperti hidroponik, aeoropinik, dan aquaponik.  Kemudian mereka juga bisa mengajarkan tentang sosoial ekonomi pertanian karena ilmu pertanian itu sangat kompleks. 

Ilmu pertanian juga mempelajari tentang tekhnologi pangan. Yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana mengubah bahan makanan menjadi makanan siap konsumsi. Seperti yang dilakukan oleh Meybi Agnesya Lomanedo. Petani muda asal Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang mengubah daun kelor menjadi coklat bernilai tinggi. 

Sebelumnya daun kelor merupakan tanaman yang identic dengan warga miskin dan harganya pun sangat murah di daerahnya. Namun oleh Meybie Agnesya Lomanledo di ubah menjadi coklat bernilai tinggi. Sehingga harga daun kelor pun naik dan perekonomian warganya pun terangkat. 


Calon sarjana lmu komputer. Dok. http://universitas-methodist-indonesia.blogspot.com
Untuk sarjana ilmu komputer, kalian paling tidak bisa mengajarkan bagaimana menggunakan komputer atau laptop secara sederhana. Saat ini, bisa menggunakan aplikasi perkantoran Microsoft office saja meliputi word, excel, power point, merupakan keahlian dasar yang banyak di butuhkan di berbagai perusahan. Misal pegawai administrasi, entry data, dan juga kasir. 

Untuk para desainer grafis, kalian bisa mengajarkan bagaimana membuat pamflet, brosur, banner, melalui software grafis di komputer. Mampu mengoperasikan satu software desain grafis, merupakan modal awal yang cukup untuk bekerja di percetakan. Buat yang jago video editor, mengajarkan editing video kepada masyarakat juga ide yang bagus, terlebih keahlian editing video adalah keahlian mahal pendulang rupiah.


Calon sarjana tekhnik. Dok. https://www.iti.ac.id
Peran sarjana tekhnik juga sangat penting. Dalam hal ini adalah tekhnik mesin. Misal di suatu daerah 3T terdapat satu orang sarjana tekhnik otomotif yang ahli dalam reparasi sepeda motor. Sarjana tersebut bisa mengadakan pelatihan pada masyarakat bagaimana memperbaiki sepeda motor yang rusak kepada masyarakatnya sampai mahir. 

Dengan begitu masyarakat akan mendapatkan ketrampilan yang bisa di gunakan untuk bekerja ataupun membuka usaha, misal bengkel. Begitu juga dengan sarjana tekhnik lainya, misal audio video, elektronik, dan lain sebagainya. 



Calon sarjana ilmu peternakan. Dok. https://infokampus.news/wp-content/uploads/2018/07/fakultas-peternakan-unikama.jpg
Seorang sarjana peternakan dapat mengajarkan tentang ilmu peternakan kepada masyarakatnya di daerah 3T. Misalnya seperti dasar-dasar ilmu peternakan, bagaimana dunia peternakan bisa berkembang, kemudian mempelajari tentang produktivitas dan mutu genetik untuk menghasilkan daging yang lebih banyak dan sehat, dan lain sebagainya sesuai ilmu yang ia dapatkan di bangku kulian. 



Calon sarjana ilmu kesehatan. Dok. https://mamikos.com
Untuk alumni sarjana ilmu kesehatan seperti perawat, dokter, bidan, mereka bisa mengabdikan dirinya di daerah asalnya melalui keahlianya masing-masing. Karena tentunya masih banyak sekali daerah 3T yang kesulitan dalam hal fasilitas kesehatan. Seorang bidan akan sangat dibutuhkan di daerah terpencil di saat warga membutuhkanya, misal saat ada warganya yang sedang melahirkan. 

Seorang perawat juga sangat di butuhkan di daerah 3T. Misal ada seorang pasien pasca operasi yang membutuhkan seorang perawat untuk merawat lukanya.

Keberadaan seorang dokter juga sangat penting agar saat ada masyarakat yang terserang sakit, mereka bisa mendapatkan penanganan cepat dan tepat.  Dan bahkan keberadaan dokter harus ada di daerah 3T, agar warganya tidak kesulitan mendapatkan layanan kesehatan. 



Calon sarjana ilmu kelautan dan perikanan. Dok. 4.bp.blogspot.com
Sarjana kelautan memiliki ilmu tentang kelautan dan cakupanya cukup luas. Seperti ekologi, meteorologi laut, bahkan sampai pengelolaan amdal. Bukan itu saja, sarjana kelautan juga mempelajari ilmu area pesisir beserta pemberdayaan masyarakatnya. Dan tentunya ilmu kelautan juga mempelejari tentang perikanan karena notebene masarakatnya adalah nelayan. Buat kalian sarjana kelautan yang tinggal di daerah 3T, ilmu yang kalian miliki bisa kalian terapkan agar daerah kalian lebih maju. 

Selain enam jurusan diatas, tentunya ada banyak jurusan lainya yang ilmunya bisa di terapkan dalam rangka Perubahan Untuk Indonesia yang Lebih Baik di area 3T. Misal ilmu kehutanan, pariwisata, ilmu gizi, tekhnologi industry pertanian, dan lain sebagianya. Intinya, apapun title sarjana kalian, bisa kalian manfaatkan ilmunya untuk Bangun Perbatasan jadi Terasnya Indonesia

Asiki. Dok. https://korindonews.com/
Memiliki ijasah sarjana memang membanggakan. Seorang sarjana juga memiliki lebih banyak peluang mendapatkan pekerjaan bergengsi dan bergaji tinggi. Tidak heran jika kebanyakan orang berpendidikan tinggi, memang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik karena wawasannya lebih luas.  Karena hal itulah, banyak para sarjana berlomba-lomba mendapatkan pekerjaan sebaik mungkin dengan merantau meninggalkan kampung halaman. 

Namun tahukah kalian para sarjana terutama yang tinggal di daerah 3T, bahwasanya kampung kalian juga  membutuhkan sentuhan dari para pemikir cerdas agar daerah kalian lebih maju.

"Ah, saya kan sudah susah payah nyelesein kuliah, biaya juga gak sedikit”

Ya, mungkin banyak yang beranggapan demikian, dan itu wajar-wajar saja mengingat seseorang sudah berkorban, berarti dia juga ingin menikmati hasilnya. 

Ilustrasi pulang kampung. Dok. Pixabay/Hermann
Namun bagaimana jika ternyata di balik itu semua, sekelompok warga di desa kalian hidup dalam garis kemiskinan. Sulitnya akses transportasi membuat distribusi perdagangan terkendala. Minimnya fasilitas pendidikan membuat anak-anak enggan melanjutkan pendidikan bahkan putus sekolah. Jauhnya fasilitas kesehatan membuat warganya banyak terserang penyakit, dan lain sebagainya. 

Untuk cerita dari Hasan diatas memang sangat inspiratif. Berkat kesadaran dari dirinya, ia rela keluar dari zona nyaman karena prihatin atas kondisi kampung halamanya dan pulang untuk membuat perubahan. Dari situ terbukti bahwa peran seorang sarjana sangat penting untuk perubahan di daerah yang terdepan, terluar dan tertinggal.  

Membangun daerah 3T juga dilakukan oleh Korindo. Yaitu perusahaan dari berbagai industri di Asia Tenggara yang telah beroperasi selama 48 tahun, yang dalam praktik-praktik pelaksanaanya selalu mengedepankan konsep ramah lingkungan dan berorientasi pada masa depan.

Website Korindo. Dok. https://www.korindo.co.id/
Kontribusi Korindo dalam membangun daerah 3T untuk wilayah Papua yaitu dengan membangun industri bidang kehutanan dan perkebunan kelapa sawit. Dari usaha yang dilakukanya, tenaga kerja terserap sebanyak 10.000 orang.   

Kontribusi lain yang dilakukan Korindo yaitu berupa pembangunan infrastruktur bidang kesehatan dan pendidikan. Untuk bidang kesehatan, Korindo membangun Klinik Asiki. Yaitu klinik modern yang lokasinya berada di pedalaman Papua. Pada 2017 lalu, Klinik Asiki meraih predikat klinik terbaik di tingkat Papu versi BPJS Kesehatan. 

Fasilitas dan infrastruktur lain yang di bangun Korindo yaitu seperti pasar, taman bermain, masjid, kebun masyarakat, pembangunan jalan, BLK atau Balai Latihan Kerja, Rumah Sakit, dan lain-lain. Tentunya ini sangat bermanfaat bagi masyarakat yang tinggal di daerah 3T. 

Dari upaya yang di lakukannya kepada masyarakat, Korindo berhasil mendapatkan  penghargaan berupa Padmamitra Award melalui bisnisnya di yaitu PT. Tunas Sawa Erma (TSE) dalam kategori penanganan keterpencilan oleh Kemensos RI.

Kesimpulannya, bisa menikmati pendidikan tinggi memang menyenangkan. Dengan pendidikan tinggi, pandangan seseorang pun lebih luas. Secara umum, seorang sarjana lebih mudah mendapatkan pekerjaan bergengsi karena wawasannya lebih luas di banding mereka yang hanya lulus SMA. Namun pastinya akan lebih bermanfaat ilmunya jika seorang sarjana bisa berkontribusi untuk kampung halamannya yang mungkin masih tertinggal untuk menciptakan perubahan. Sehingga terciptalah SDM berkualitas  yang siap bersaing dengan masa depan. Dan bersama-sama dengan Korindo, mari kembangkan daerah 3T agar semakin maju dan berkembang untuk Indonesia yang lebih baik.  

Sumber referensi artikel : 
  1.  www.korindo.co.id
  2. korindonews.com
  3. https://bandungkita.id/2018/10/31/kisah-inspiratif-pemuda-ini-rela-tinggalkan-gaji-besar-demi-memajukan-desanya-hasilnya-seperti-ini/
  4. https://www.hipwee.com/motivasi/8-alasan-kenapa-sarjana-terbaik-adalah-kamu-yang-pulang-ke-kampung-halaman-dan-membuat-perubahan/ 
  5. http://farming.id/kuliah-di-pertanian-apa-yang-dipelajari-dan-bagaimana-prospeknya-di-indonesia/
  6. https://www.youthmanual.com 
  7. https://preneur.trubus.id/baca/22696/meybi-agnesya-ubah-stigma-daun-kelor-jadi-makanan-mewah 

Subscribe to receive free email updates:

11 Responses to "Mengapa Daerah 3T Butuh Campur Tangan Para Sarjana ?"

  1. Wah Korindo ini keren juga yah, sudah banyak membantu wilayah-wilayah yang tertinggal. Semoga semakin berkembang dan programnya semakin sukses...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas karena Korindo peduli denga lingkungan sekitar, terutama daerah 3T

      Hapus
  2. Artikel ini menarik! Patut dibaca oleh para sarjana atau calon sarjana yang berasal dari daerah. Supaya daerahnya semakin berkembang, kalau bukan mereka yang mengembangkan, siapa lagi?

    Itulah mengapa, hingga saat ini saya masih mendambakan hidup di daerah. Semoga suatu saat bisa memiliki hunian, kebun, dan usaha di desa seperti Mas Amir. Salam hangat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Mas. Kesadaran dari para lulusan sarjana dari daerah terpencil sangat penting untuk memajukan daerahnya masing2 yang mungkin masih tertinggal

      Hapus
  3. Cerita inspiratif dari Mas Hasan. Saya baru tahu, Mas Amir. Setuju banget kalau semua sarjana harus kembali membangun kampung halamannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas, sebaiknya sih begitu Mas demi kebangkitan bersama

      Hapus
  4. seharusnya seperti ini, tapi banyak sarjana yang ada dikampung malah lari ke kota untuk cari kerja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas betul sekali, kalau semua sarjana begini, kesejahteraan Indonesia akan merata sampai ke pelosok tanah air

      Hapus
  5. Betul banyak banyak sarjana Indonesia maju

    BalasHapus
  6. Artikelnya menarik. Jika saja para putera-puteri daerah memiliki kesadaran untuk kembali ke daerahnya masing-masing untuk membangun dan dan mengembangkan potensi di sana... Tapi nyatanya, mereka lebih terpikat dengan gemerlap duniawi kota-kota besar. Walaupun ada yang memiliki kesadaran untuk kembali, tapi jumlahnya tidak seberapa.

    BalasHapus
  7. Artikel yang menarik dan menginspirasi, mantap!

    BalasHapus