Perjalanan dari Banjarnegara ke Pekalongan

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke Pekalongan dalam rangka kopdar bersama teman teman blogger, wartawan, droner dan juga fotografer. Acara kami ini dalam rangka promosi wisata yang di adakan oleh pemerintah Pekalongan dengan tujuan wisata Petungkriyono. Untuk tahu lebih lanjut tentang petungkriyono, saya juga sudah menuliskanya di blog saya yang lain, klik disini.

Untuk menuju kesana, awalnya saya bingung mau lewat mana. Apakah harus menerobos ataukah lewat jalur utama yaitu Purwokerto – Purbalingga – Pemalang - Pekalongan, namun memakan waktu lama. Ataukah lewat Banjarnegara – Pekalongan karena lumayan dekat. Setelah di pikir pikir, akhirnya saya memilih jalur pintas saja yaitu melalui kota Banjarnegara menuju Pekalongan. 

Dari rumah saya di Kebumen, saya melewati pasar Gombong kemudian menuju ke arah utara lewat kecamatan Sempor - Banjarnegara. Jalur sempor ini memang sepi karena berada di tengah hutan pinus, namun jaraknya tidak panjang hanya beberapa kilometer saja. 

Tapi saya sarankan jika Anda mau lewat sini, baiknya jangan malam hari karena banyak “hantu nyata” yang mengancam keselamatan kita, apalagi kalau bukan perampok atau begal. Karena 2016 lalu pernah ada korban pembegalan disini. Tapi untungnya si korban cuma di ikat dan tak di lukai. Dan barang yang di ambil yaitu mobil beserta uang 4 juta rupiah kalau gak salah, serta barang barang lain seperti handphone dll. 

Setelah melewati kota Banjarnegara, saya ambil rute tengah kota melawati Hotel Surya Yudha, kemudian jalan terus ke utara melewati kecamatan Wanayasa. Kondisi jalan di sana berkelok kelok namun halus dan pemandanganya sangat menawan. Dan ternyata jalur tersebut juga merupakan jalur menuju wisata Candi Dieng. 

Di sekitaran jalan banyak tumbuh pohon salak. Banyak batu batu besar menjulang tinggi di lereng lereng gunung. Dan yang bikin saya agak teraganggu adalah karena hawanya sangat dingin, dingin sekali. Bahkan sampai kebelet pipis dan sampai keluar air dari hidung karena saking dinginya. 

Semakin ke utara menuju ke arah Dieng, kita akan banyak menjumpai tanaman sayur sayuran seperti kentang, kol, wortel, cabai dan lain sebagainya. 

Yang harus di persiapkan sebelum melewati jalur ini yaitu kondisi kendaraan harus kondisi ok, karena jika sampai mogok, disana jarang sekali ada bengkel, iya kalau jalurnya lurus, ini jalurnya naik turun. Gak mau kan dorong motor di jalan nanjak, bisa bisa mundur tuh motor. Dan juga jangan lewat sini tengah malam, khawatirnya banyak “hantu nyata” kayak tadi yang akan mengganggu perjalanan kita. 

Sesampainya di Batur, kita jalan ke arah barat menuju Pekalongan lewat kecamatan Karangkobar. Disini kita juga akan melewati hutan pinus yang sepi dan berkelok kelok. Tidak ada bengkel ataupun tukang bensin. Dan hawanya gak terlalu adem kayak di Dieng. Namun pemandanganya keren sangat. Dan jarak perjalananya itu jauh sekali. Saya pun sempat was was karena tak ada penjual bensin atau bengkel. Makanya motor saya sudah dalam kondisi fit dan bensin full. 

Dan kemarin saya juga melihat ada pengendara motor yang menuntun motornya, motor gede pula, duh pasti ngenes banget tuh orang. Kudu hati hati ya lewat sana, khawatirnya ada binatang liar lewat, tar di samperin wkwkwk.

Dan jalanya sepi banget, sepiii banget dan agak gelap karena tertutup pohon pohon pinus. Setelah sampai Pekalongan kota, saya sudah banyak menemui rumah rumah, pertanda sudah aman karena banyak penjual bensin dan bengkel. Dan berikut adalah foto foto jalan saat kemarin lewat sana.










Nah, itulah pengalaman saya saat ke Pekalongan melewati Banjarnegara, semoga bermanfaat

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Perjalanan dari Banjarnegara ke Pekalongan"

  1. Lah jalanan bagus dan sepi gitu pasti rasa lelah bakal berkurang ya kang.
    Selain itu bisa disambi buat foto-foto.
    Andai semua jalanan di Indonesia penuh dengan pepohonan gitu pasti bakal adem banget :)

    BalasHapus
  2. Cocok dicoba ni, apalagi bawa teman jadi aman perjalanan..

    BalasHapus
  3. Kalo di Aceh jalan ini mirip dengan jalan seulawah, Di sekitaran jalan juga banyak tumbuh pohon besar menjulang tinggi. Kalo jalan lagi sepi paling enak bawa motor, asal ngk ngealami kejadian yang sama kyk diatas, ngenes banget..

    BalasHapus