Masa SMA itu Masa yang Paling Membahagiakan, Tapi Tidak bagi Saya

Foto : http://majalahouch.com
Bagi kebanyakan anak muda, usia 17 tahun atau masa masa SMA adalah masa yang paling membahagiakan itu benar. Namun juga tidak sepenuhnya benar karena ada sebagian orang yang tidak mengalaminya, salah satunya saya. Bukan hanya masa SMA, tapi saat masih SMP pun saya tidak bahagia. 

Saat Masuk SMP (MTs)
Saya ini tergolong anak dengan kemampuan otak pas pasan. Sekali diajari saya tidak nangkap, dua kali diajari masih tidak nangkap juga, baru yang ketiga kalinya saya baru nangkap. Dulu saya tidak bisa masuk SMP favorit karena nilaiku yang tidak masuk standar. Akhirnya saya masuk MTs.  

Saat awal awal masuk MTs, saya merasa agak senang sebagai anak remaja yang masih suka dolan (bermain). Namun seiring waktu berjalan, teman temanku banyak yang tidak suka ke saya, entah apa sebabnya. Ada yang bilang saya ini jelek, ada yang bilang saya orang tidak berpunya, dan lain sebagainya. Saat dikelas, saya pun sering mendapatkan perlakuan kasar dari teman teman, di pukul, di permalukan, di lempar paku, dan lain sebagainya. Namun begitu saya hanya bisa diam tak membalas. Karena hal ini, mental saya down, saya jadi sering tidak masuk kelas karena khawatir mendapatkan perlakuan seperti itu.

Hal ini masih terjadi saat saya masuk kelas 3. Rasanya sakit dan sakit sekali. Namun saya hanya bisa menahanya dalam hati. Mereka yang suka melontarkan kata kata kasar ke saya adalah anak anak popular yang sok keren padahal sebenernya nggak tahu. Bahkan karena saking sakitnya, saya pernah berkata bahwa saya enggan untuk meneruskan sekolah lagi ke tingkat yang lebih tinggi (SMA).

Tuhan memang punya rencana lain dalam banyak hal. Walaupun saya sering di bully, tapi saya cukup berprestasi. Saat kelas 3, saya pernah mendapat juara 1 lomba fasih sholat jenazah. 

Selama sekolah pula, saya menjadi siswa yang paling pandai mengartikan aksara jawa, walaupun sekarang sudah lupa lupa ingat.

Baca juga : sengaja mencat kamar agar bisa ikut lomba blog

Jadi saat ada pelajaran bahasa jawa dan ulangan, mereka semua (teman teman saya) selalu menunggu jawaban dari saya.

Di akhir masa kelulusan sekolah, saya cukup senang karena nilai yang saya dapatkan dari proses belajarku yang begitu tekun membuahkan hasil yang lumayan.

Saat Masuk STM (SMK)
Setelah lulus SMP (MTs), saya meneruskan kembali ke SMK favorit dan saya diterima dengan nilai A. Namun karena sepertinya orang tua saya tidak mampu membiayai sekolah saya, akhirnya saya pindah ke sekolah yang biaya pendidikanya rendah walaupun kualitas pendidikannya juga mengikuti, sama sama rendahnya.

Saat masuk SMK, awal awalnya juga saya merasa senang seperti anak anak pada umumnya. Namun tanpa berselang lama, saya mulai merasakan sakitnya di bully teman teman popular yang sok keren dan sok kaya. Mereka berlagak keren dengan penampilah yang kekinian di masa itu, sampai menampilkan image bahwa dirinya seperti orang berduit padahal enggak tahu yang sebenarnya.

Ke sekolah pakai motor, bawa handphhone keren dimasa itu, pakaianya juga necis, sangunya juga lebih, padahal kondisi sebenernya entah seperti apa. Bahkan saya pernah tahu kalau salah satu dari mereka (siswa popular), listrik dirumahnya sampai dicabut karena tidak bayar selama beberapa bulan.
Kelihatanya saja seperti orang kaya, ternyata lbayar listrik saja tidak mampu.

Bahkan ada juga salah satu dari orang tua murid yang sampai menjual tanah hanya untuk membelikan anaknya motor biar bisa di bilang keren oleh teman teman.

Hal unik waktu saya STM dulu adalah, banyak anak anak terutama siswa popular yang meninggal kecelakaan karena kebut kebutan di jalan raya. 

Bagi mereka, derajat seperti turun drastis jika sudah punya motor, tapi gak pernah ngebut, aneh banget.

Pernah suatu kali saat saya mendapatkan ranking 5 besar, ada anak yang ndak terima pada saya. Padahal itu kerja keras saya sendiri, tapi kenapa ndak terima. Aneh banget.

Saat kelas dua, saya cukup mendapatkan nilai bagus. Raport saya selalu mendapat rangking 2 dan 3. Namun beruntung karena saat itu mereka tidak ada yang menunjukan rasa ketidak terimaanya saat saya bisa berprestasi seperti itu.

Cuma selama sekolah, ada 1 anak yang sepertinya sangat membenci sekali dengan saya. Bencinnya itu benci sekali.

Saat masuk kelas 3, nilai saya jeblok karena jarang masuk sekolah. Karena apa ? karena saya takut dan khawatir sekali di bully lagi. Setiap akan berangkat sekolah, bayang bayang rasa takut selalu menghampiri. Karena hal tersebut, saya jadi sering menghitung hari "kapan ya selesai sekolahnya?" saya sudah tidak tahan denga perlakuan mereka.

Di akhir kelulusan, mereka pada coret coret tidak karuan, tapi saya enggak. Acara kelulusan di rayakan di sebuah hotel, namun saya tidak mengikutinya karena saya malas dan takut di bully lagi.

Setelah lulus, rasanya bahagia sekali karena tidak lagi bertemu mereka. Bahkan jika ditawari kuliah gratis pun saya enggak mau karena khawatir saya dibully lagi.

Apakah hanya di Indonesia saja yang seperti ini ? karena saya banyak tahu bahwa sekolah diluar negeri, orang dengan difabilitas saja sangat di hormati, apalagi orang tanpa difabilitas.

Maka dari itu, saya jadi pemurung, pemalu dan tak punya banyak teman. Namun yang unik dari saya, walaupun saya pernah mengalami hal pahit seperti itu, saya ini type orang yang rajin dan kreatif, bahkan sampai melampaui batas (maaf bukan lagi sombong). Dan karena rajin kreatif, sekarang saya bisa bekerja dirumah, duduk didepan laptop dan bisa dapat uang. Hal yang sepertinya sulit dilakukan banyak orang, terutama para pemalas.

Dan sekarang saya tidak tahu seperti apa nasib mereka. Namun setahu saya, ada yang jadi karyawan pabrik, bekerja di pasar, dan lain sebagainya.
Selesai

Subscribe to receive free email updates:

6 Responses to "Masa SMA itu Masa yang Paling Membahagiakan, Tapi Tidak bagi Saya"

  1. kayaknya sama kisahnya sama saya dimasa SMA ni MAS

    BalasHapus
  2. saat smp pun menjadi masa2 kritis bagiku, pembullyan dimana2 walau aku ga kena parah2 amat, pas sma mah masa senang2, semua teman2 baik2 dari kelas 1 sampai lulus....ah kuncinya selalu bersyukur dengan apa yang ada dan tetap berdikari : )

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas, syukur itu yang utama

      Hapus
  3. Syukurlah masa itu sudah terlewati ya. Mas :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, masa masa itu pahit sekali kalau di ingat ingat

      Hapus