Jogjakarta – Kota Kental Budaya

Ilustrasi Jogja Kota Budaya.
Note : Semua gambar di pinjam dari yogyes.com kecuali wayang golek dari blognya Alfino, kethoprak dari slbn1bantul20155 dan turis asing dari JIHW
Indonesia itu indah, memiliki beraneka ragam suku, adat dan budaya. Indonesia juga terkenal dengan keramah tamahan masyarakatnya sehingga para turis yang datang selalu ingin kembali ke Indonesia.

Salah satu yang menjadi alasan mengapa orang, baik turis domestik ataupun mancanegara gemar berkunjung ke Indonesia adalah karena keragaman budayanya yang memiliki nilai nilai luhur di dalamnya, seperti wayang, gamelan dll.

Salah satu kota yang hingga saat ini, hingga detik ini, masih memegang teguh warisan budaya Indonesia terutama budaya Jawa dengan tetap melestarikanya yaitu Jogjakarta. Dan Tempat yang paling sering di jadikan ajang pementasan budaya adalah keraton Jogjakarta.

Dan berikut adalah foto foto Keraton Yogyakarta


Keraton Yogyakarta
Keraton Yogyakarta dibangun oleh Pangeran Mangkubumi pada tahun 1755, beberapa bulan setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti. Tanah berdirinya Keraton Yogyakarta tersebut berada di hutan beringin karena di apit oleh dua sungai sehingga di anggap mampu meminimalisir kemungkinan terjadinya banjir. 

Walaupun sudah berusia ratusan tahun dan sempat rusak karena gempa tahun 1867, namun Keraton Yogyakarta tetap berdiri kokoh dan terawat dengan baik.

Kraton Kasultanan Ngayogyakarta atau yang lebih di kenal dengan Keraton Yogyakarta, bukan hanya menjadi tempat tinggal raja, namun merupakan kiblat budaya Jawa. Tempat ini merupakan pusat museum kebudayaan Jawa yang ada di Jogjakarta. Di sini wisatawan bisa melihat budaya Jawa terus hidup dan di lestarikan.

Dan apa saja Jogja Heritage atau warisan budaya Jogja yang terus berlangsung, yang sebagian besaranya bertempat di Keraton Yogyakarta, berikut ulasanya :

Senin - Selasa : Musik Gamelan, Bertempat di Keraton Yogyakarta (mulai jam 10.00 - 12.00 WIB)

Biasanya, kita hanya bisa menikmati musik gamelan saat ada pertunjukan wayang kulit atau acara acara tertentu, namun di Keraton Yogyakarta, kita bisa menjumpainya setiap hari senin dan selasa. Pertunjukan gamelan ini di bawakan oleh beliau para pemain musik gamelan yang memang sudah ahli di bidangnya.

Pertunjukan Gamelan di Keraton Yogyakarta
Gamelan itu sendiri memiliki filosofi dari kata perangkainya, G (Gusti, A (Allah), M (Maringi/Memberi), E (Eling/Emut/Ingat), L (Lakono/Jalankan), A (Ajaran), N (Nabi). 

Dari singkatan kata di atas jika di terjemahkan bebas bisa berarti bahwa manusia itu harus selalu menjadi orang yang pemberi (dermawan), ingat kepada Tuhan, menjalankan perintahnya dan jauhi laranganya seperti nabi kita Muhammad SAW.

Sedangkan bunyi gamelan itu sendiri terdiri dari  :

NENG (meNENG, diam) yang jika di terjemahkan bebas bisa berarti bersikap tenang (diam).

NING (weNING, berfikir) yang jika di terjemahkan bebas bisa berarti berfikir sebelum melakukan sesuatu.

NUNG (ndhuNUNG, berdo’a ) yang jika di terjemahkan bebas bisa berarti bahwa kita harus selalu berdoa keapda Tuhan agar hidup kita selamat dunia akhirat.

NANG (meNANG, Kemenangan) yang jika terjemahkan bebas bisa berarti kita harus selalu menjadi pemenang, seperti menang dalam mengendalikan hawa nafsu dll.

NONG (Tuhan) dan Nong di filosofikan dengan Tuhan kita kita satu.

Dalam menggunakanya pun memiliki tata cara tersediri, seperti cara memainkanya, tata susila dan rasa kebersamaan, serta kepekakan emosi. Bermain gamelan juga harus dilakukan dengan sikap baik dan duduk bersila, serta seorang pun tidak boleh berjalan melangkahi alat-alat gamelan itu sendiri.

Untuk menyaksikan acara ini hanya membayar tiket masuk saja yaitu Rp 5000,- untuk wisatawan lokal dan Rp 15.000,- untuk wisatawan asing.

Wah, benar benar syarat makna gamelan ini. Setiap detailnya memiliki filosofi luhur di dalamnya. Dan warisan budaya yang satu ini masih lestari hingga kini di Keraton Yogyakarta.

Rabu : Wayang Golek Menak, Bertempat di Keraton Yogyakarta (mulai jam 10.00 - 12.00 WIB)

Selain wayang kulit, wayang golek juga merupakan salah satu warisan budaya Yogyakarta yang mana setiap hari rabu di Keraton Yogyakarta di adakah pagelaranya.

Cerita dalam setiap pertunjukan wayang golek ini di ambil dari babad Mekkah atau Babad Menak yang berasal dari Jazirah Arab, yang mengisahkan perjuangan dakwah islam dalam penyebaran agamanya.

Dalam cerita wayang golek, tokoh utamanya yaitu Tiyang Agung Jayengrana. Dalam pertunjukan di Bangsal Srimanganti Keraton Yogyakarta, tentu saja gaya yang di bawakan bukan gaya wayang golek Sunda seperti yang kita kenal yaitu cepot dengan dalangnya Asep Sunandar, melainkan mengikuti gaya Jawa Yogyakarta seperti bahasa, tokoh, model penyampaian/alur, cerita, iringan musiknya dengan gaya yang tentunya berbeda dengan yang lain. 

Wayang golek ini dipentaskan di Kraton Yogyakarta sebagai salah satu pengisi pertunjukan di bangsal Sri Manganti, dan juga sebagai salah satu bentuk keragaman pertunjukan seni kebudayaan yang dimiliki Kraton Yogyakarta, selain yang telah dikenal luas seperti wayang kulit, tari klasik dan karawitan. Ini menjadi salah satu indikator pula bahwa Yogyakarta juga memiliki Wayang Golek yang berbeda dari wayang golek Pasundan yang sangat populer.


Pertunjukan Wayang Golek di Keraton Yogyakarta. Foto : Alfino
Dan tentu saja pagelaran ini menarik minat banyak wisatawan, terutama wisatawan asing yang pastinya sangat antusias menyaksikan pementasan ini. Namun sayangnya, seperti di kutip dari blognya Mas Alfino yang pernah menyaksikan acara ini, dalam memahami alur cerita pagelaran wayang golek ini di perlukan pemahaman dan pencermatan khusus agar bisa memahami setiap alur cerita, sehingga bagi yang tidak terbiasa menonton, akan sulit memahami makna dari cerita dari pementasan tersebut.

Menurut beliau juga, alangkah baiknya jika di sediakan guide khusus atau paling tidak seorang abdi dalemnya sudah benar benar tahu dengan cerita yang di bawakan, sehingga wisatawan terutama turis asing bisa paham maksud dari cerita yang di bawakan, juga makna atau filosofinya.

Hanya dengan tiket Rp 5000,- untuk wisatawan lokal dan Rp 15000,- untuk wisatawan asing, wisatawan bisa menyaksikan acara ini yang selalu di adakan setiap minggunya.

Kamis : Pertunjukan Tari Ramayana Ballet, Bertempat di Candi Prambanan (mulai jam 19.30 - 21.30 WIB)

Di hari kamis ini, Anda bisa menikmati pagelaran sendra tari ramayana ballet yang mengisahkan kejadian seperti di dinding Candi Prambanan. 

Jalan cerita yang panjang dan menegangkan ini, di rangkum dalam empat lakon, yaitu mulai dari penculikan Dewi Shinta, kemudian misi Anoman ke Alengka, berlanjut ke kematian Kumbakarna atau Rahwana, dan terakhir pertemuan kembali Rama dan Shinta.

Seluruh cerita di suguhkan dalam rangkaian gerak tari yang di bawakan oleh penari yang rupawan dan di iringi musik gamelan. Jadi selain Anda bisa melihat langsung pertunjukan gamelan di hari seninnya, Anda juga bisa menyaksikan lagi di hari kamis sekalian dengan pertunjukan ini.

Anda akan di ajak untuk benar benar larut dalam cerita dan mencermati setiap gerakan untuk mengetahui jalan cerita. Tak ada suara dalam yang keluar dari para penari, satu satunya penutur adalah sinden yang menggambarkan jalan cerita, lewat lagu lagu dalam bahasa jawa dengan suaranya sindenya yang khas.


Pertunjukan Ramayana Ballet di Keraton Yogyakarta
Cerita di mulai ketika Prabu Janaka mengadakan sayembara untuk mencari pendamping puterinya yaitu Dewi Shinta, yang kemudian di menangkan oleh Rama. Dilanjutkan dengan petualangan Rama, Shinta dan adik Rama yaitu Laksama, untuk berpetulang di hutan Dandaka.

Di hutan itulah, mereka bertiga bertemu Rahwana yang ingin memiliki Shinta karena di anggap sebagai jelamaan Dewi Widowati yang telah lama di carinya.

Untuk mengalihkan perhatian Shinta, Rahwana mengubah seorang pengikutnya menjadi seekor kijang. Usaha Rahwana berhasil karena membuat Shinta terpikat dan meminta Rama untuk memburu kijang tersebut.

Namun karena Rama tak kunjung kembali dalam perburuanya, adiknya yang bernama Laksmana pun mencarinya dan meninggalkan Shinta dengan sebelumnya telah di beri perlindungan berupa lingkaran sakti.

Namun ternyata Shinta berhasil di culik Rahwana setelah dirinya mengubah sosok menjadi Durna.

Di akhir cerita, Shinta berhasil di rebut kembali oleh Hanoman, sosok kera yang lincah perkasa, namun setelah di bawa kembali, Rama justru tak mempercayainya lagi karena menganggap Shinta telah ternoda. 

Untuk membuktikanya, Rama meminta Shinta untuk membakar dirinya, namun ternyata pula tubuh Shinta tidak terluka sedikitpun termakan api, melainkan malah bertambah cantik, dan Rama pun menerima Shinta kembali.

Untuk menimkati pagelaran ini selengkapnya, Anda akan di kenakan tarif Rp 125.000 - Rp 375.000, namun semua penasaran terbayarkan setelah Anda selesai menimkati pagelaran budaya ini.

Jum'at : Macapat, Bertempat di Keraton Yogyakarta (mulai jam 10.00 - 11.30 WIB)

Macapat adalah pementasan puisi Jawa yang di iringi oleh gamelan. Puisi ini di lantunkan seperti lagu dan memiliki aturan aturan dan bentuk tertentu. Jenis jenis lagunya seperti dhandang gula, macaphat, asamaradana, sinom, dll. Dan tiap tiap lagu memiliki jumlah lirik dan bunyi yang di sebut guru.

Seorang Bapak sedang melantunkan tembang macapat di Keraton Yogyakarta
Untuk menyaksikan acara ini hanya membayar tiketmasuk ke Keraton, Rp 5000,- untuk wisatawan lokal dan Rp 15000,- untuk wisataawan asing.

Sabtu : Wayang Kulit, Bertempat di Tembi Rumah Budaya (mulai jam 10.00 - 13.00 WIB)

Wayang kulita adalah mahakarya seni pertunjukan Jawa serta sudah di akui oleh UNESCO. Dalam pertunjukan wayang, seorang dalang memainkan wayang yang terbuat dari kulit kerbau, di balik layar yang terbuat dari kain putih sehingga para penonton hanya dapat melihat bayangannya saja.


Pertunjukan wayang kulit di Keraton Yogyakarta
Yang unik dari pertunjukan wayang adalah kelincahan sang dalang dalam memainkanya dengan gerakan gerakan yang atraktif, seperti pandai menirukan suara, berganti intonasi, melemparkan tawa layaknya pelawak dan juga suaranya yang tak kalah bagus layaknya penyanyi.

Untuk menikmati pertunjukan ini tidak dikenakan biaya, melainkan hanya membayar tiket masuknya.

Setiap Minggu Awal Bulan : Wayang Orang, Bertempat di Auditorium RRI, Gejayan (mulai jam 20.00 - 24.00 WIB)

Wayang orang atau Kethoprak adalah seni teater tradisional khas Jawa. Kethoprak adalah sandiwara yang di iringi gamelan dan lagu lagu Jawa. Seperti namanya sendiri, wayang orang atau kethoprak diperankan oleh manusia sebagai peraganya. Berbeda dengan wayang kulit, wayang orang mengambil tema cerita bebas dari kehidupan sehari hari. Untuk menyaksikan acara ini Anda di kenakan tiker Rp 5000,-.

Kethoprak. Foto : slbn1bantul20155
JIHW

Nah, budaya yang satu ini yang akan sebentar lagi di laksanakan di bulan November mendatang. JIHW ata Jogja Internetional Heritage Walk adalah acara jalan kaki tingkat Internasional yang membawa konsep kesehatan, penghijauan, pendidikan, ekonomi, komunikasi dan pariwisata.

Semua konsep JIHW di aplikasikan dengan penanaman pohon sebanyak 1000 buah di lereng Karang Tengah Kota Bantul Yogyakarta. 


Kegiatan JIHW di Yogyakarta. Foto : JIHW
Acara ini di adakan selama 2 hari yaitu tanggal 19-20 November mendatang. JIHW resmi di kukuhkan sebagai anggota ke 27 Liga Jalan Kaki Dunia pada 7 Mei 2013 di Chantonann, Perancis. Dengan demikian, JIHW juga secara resmi di terima sebagai satu satunya negara ASEAN yang menjadi anggota jalan kaki dunia ini.

JIHW juga secara resmi telah di terima sebagai anggota internasional Federation of Sports Populer (IVV) yang akan menangani triathlon pada bulan November 2018 mendatang.

Nantinya, acara jalan kaki ini akan di laksanakan di 2 tempat. Yaitu di Candi prambanan dan Desa Imogiri dengan rute yang sudah di tentukan masing masing lokasi.

Para peserta nantinya akan di ajak untuk berjalan kaki melalui rute yang dudah di tentukan, menanam pohon, berinteraksi sosial dengan warga sekitar, menyaksikan pertunjukan, melihat pameran UKM warga dan lain sebagainya.

Pesertanya bukan hanya warga lokal, melainkan turis asing pun banyak yang berpartisipasi karena ini merupakan event kelas dunia.

Dan selain budaya di atas tersebut, masih banyak Jogja Heritage atau warisan budaya lainya, seperti Candi Prambanan, Batik, Museum Sonobudoyo, Sendra Tari Subali Sugriwa dll.

Sendra Tari Subali Sugriwa
Museum Sonobudoyo
Candi Prambanan
Batik Yogyakarta. Foto : batik-tulis
Nah, sekarang kita sudah tahu ya bahwa Jogjakarta itu kaya sekali akan warisan budaya, namun tetap langgeng karena pemerintah setempat tetap melestarikanya. Dan tugas kita sebagai pewaris budaya yaitu dengan menjaga dan melestarikanya, agar tetap lestari dan tidak diklaim oleh negara lain seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, cara yang bisa ditempuh antara lain :

[1] Mempelajari dan Mempraketakan Budaya. Bukan melestarikan budaya namanya jika hanya melindungi tanpa melakukan apa apa. Sebagai contoh, Indonesia memiliki kesenian gamelan, namun karena masyarakat itu sendiri tidak mengetahui dengan mempelajarinya, maka lama kelamaan kesenian tersebut tidak memiliki pewaris dan terancam punah.

Pengaplikasianya bisa dengan menerapkanya di pelajaran pelajaran sekolah, dari SD hingga SMA atau kuliah sebagai mata pelajaran umum, ataupun dengan mempelajarinya secara pribadi. Pengalaman sewaktu saya pribadi duduk di bangku SMA, di sekolah saya tidak terdapat mata pelajaran budaya, paling tidak bahasa jawa (bahasa daerah).

[2] Mengikuti Kegiatan Budaya. Cara lain agar budaya tetap lestari yaitu dengan mengikuti kegiatan budaya. Semisal dengan mengikuti lomba tari tarian daerah. Dengan begitu, sebelumnya Anda akan berusaha untuk mempelajari bagaimana agar bisa menang dalam kontes tersebut, yang sekaligus Anda sudah berpartisipasi dalam kegiatan budaya.

[3] Bergabung dengan Komunitas Budaya. Dalam sebuah komunitas, tak terkecuali komunitas budaya, biasanya masing masing anggota memiliki latar belakang tersendiri. Jika dalam komunitas budaya, Anda akan bertemu dengan pegiat pegiat budaya yang memiliki semangat mempertahankan budaya masing masing. Anda juga bisa berbagi pengalaman antar satu anggota dengan anggota lainya, sehingga budaya satu dengan yang lainya saling mengenal dan mengajarkan, hingga akhirnya budaya tersebut saling menyebar.

[4] Mengajarkan ke Orang Lain. Memang, hal ini tidak lah mudah. Namun ternyata banyak juga mereka mereka yang berhasil mengajarkannya ke orang lain. Target yang pas adalah kaum remaja, disamping usianya yang masih produktif, mereka juga gampang terpengaruh budaya asing yang belum tentu positif. Dengan mengambill target kaum remaja, mereka bisa terhindarkan dari buadaya asing yang tentu baik baginya tersebut.

Caranya bisa bekerja sama dengan pemerintah desa/kota setempat atau karang taruna setempat. Contoh nyatanya adalah masih banyakanya sanggar sanggar tari daerah tersebar di Indonesia, yang mengajarkan tari tarian khas Indonesia.

[5] Memposting di Dunia Maya. Ini juga merupakan cara yang paling mudah di lakukan di era modern ini, sebagai pengukuhan bahwa budaya kita adalah miliki kita, Indonesia. Sehingga orang dari seluruh dunia tahu bahwa Indonesia memiliki budaya sesuai yang tercantum dalam informasi yang tersebar di internet tersebut. Dan akan lebih afdhol lagi jika di buat situs resminya. Cara ini juga agar negara lain bisa mengetahui bahwa kita itu memiliki budaya seperti yang tertulis di artikel di internet.

[6] Melakukan Seperti di Keraton Yogyakarta. Seperti yang di atas kita bahas, semua aktifitas di Keraton Yogyakarta adalah cara terbaik untuk mempertahankan dan melestarikan budaya, sehingga tidak punah. Yaitu dengan adanya satu tempat pengumpulan budaya dan aktifitas budaya di dalamnya.

Kesimpulannya, Yogyakarta adalah Provinsi atau Kota yang memiliki segudang warisan budaya. Uniknya, budaya di Kota Yogyakarta masih kental karena masih di lestarikan terutama di Keraton Yogyakarta. Dimana dalam budaya tersebut mengandung nilai nilai luhur yang baik untuk kehidupan kita. Bagi yang tertarik untuk mengetahuinya, silahkan datang ke Yogyakarta.

Dan kita sebagai warga negara indonesia juga wajib menjaga budaya kita masing masing sebisa mungkin, agar tetap lestari dan tidak di akui oleh negara lain.

Terimakasih 

1. https://hadisukirno.wordpress.com/tag/filosofi-gamelan/
2. https://Yogyes.com
3. http://www.njogja.co.id
4.     http://jogjaheritagewalk.com
5.     http://guruppkn.com/cara-melestarikan-budaya

Tag : #Heritageku, #Heritagemu, #Heritagekitasemua

Subscribe to receive free email updates:

8 Responses to "Jogjakarta – Kota Kental Budaya"

  1. Kalau jalan-jalan ke Jogjakarta gak usah takut Mau kemana atau hendak ngapain. Jogja kental sekali dengan budaya Jawa yang akan banyak memberi kita inspirasi. Jogjakarta menurut saya sudah seperti Bali, selain destinasinya berkembang infrastrukturnya juga sudah terbangun dengan baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jogjakarta emang keren, budayanya banyak, masyarakatnya juga ramah ramah

      Hapus
  2. Mas, saya belum pernah ke Jogja, gimana dong?? Ini lomba blog apaan ya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti akan surprise banget jika suatu saat main ke jogja,inilomba blog #jogjaheritage

      Hapus
  3. duh jadi kangen jogja

    budy | Travelling Addict
    blogger abal-abal
    www.travellingaddict.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jogja emang keren, budayanya banyak yang mencerminkan nilai2 luhur di dalamnya

      Hapus
  4. Sekali ke jogja, bakal kangen buat balik lagi ke jogja.:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jogja emang keren, banyak tempat wisata menarik di sana, termasuk wisata budaya

      Hapus