Antara Keberanian - Gigi - dan Kepercaya Dirian

Duh, bagaimana ya menuliskanya, sebenarnya saya sedikit agak malu nih menceritakan hal ini, tapi tidak apa apalah, semoga ada manfaat yang bisa di petik dari ceritaku ini.

Tahun 2000 lalu, saat saya masih kelas 6 SD, saya mengalami kecelakaan kecil di Mushola tempat saya mengaji. Walaupun kecil tapi pengaruhnya besar dalam hidup saya. Jadi pas saat itu, kebetulan sedang hujan, lantai keramik Mushola menjadi agak basah karena percikan dari air hujan tersebut. Saya yang waktu itu masih kanak kanak, memanfaatkan kesempatan itu untuk bermain perosotan meluncur kesana kemari bersama teman teman.  Dan tanpa sengaja, saat saya sedang asik asiknya melucur, tiba tiba terhenti di bagian keramik yang keset karena sudah kering. Jatuhlah saya dan patahlah 2 gigi depan saya. Dari sini lah rasa kepercaya dirian saya mulai hilang selama hampir 7 tahun, ihiks ihiks….

Mungkin karena kurang paham atau kurang berpengalaman, orang tua dan saudara saudara saya tidak ber-inisiatif membawa saya ke dokter spesialis gigi untuk mengobatkan saya, saya pun maklum, dan akhirnya saya bertindak sendiri. Karena pastinya, efek dari cedera yang saya alami bukan hanya sakit secara fisik, tapi soal hubungan sosial dengan orang orang sekitar secara berkelanjutan pun akan terganggu.  

Dan benar saja, karena kejadian tersebut, saya menjadi pribadi yang amat kurang percaya diri dari sebelumnya, saya juga menjadi pemurung dan pendiam. Akibatnya saya sering di bully oleh teman teman selama saya di sekolah, rasanya sakit sekali. Saya sulit bergaul sehingga teman saya sedikit. Jika masa remaja adalah masa masa indah seperti yang orang orang bilang, maka bagi saya sebaliknya. 

Bagi saya, di masa masa itu banyak terjadi sakit hati. Saya merasakan indahnya masa sekolah saat kelas 1 SMA, itupun karena saya memiliki teman yang begitu akrab (ce-es, saya kalau berteman sukanya ce-esan), sehingga saya lebih bisa banyak berbagi perasaan untuk mengurangi rasa yang terpuruk ini. Namun karena suatu masalah antara saya denganya, maka pertemanan pun tidak seakrab dulu lagi. Setelah itu keadaan kembali seperti semula, kurang percaya diri.

Dengan keadaan ini, saya menjadi sulit untuk berkonsentrasi dalam belajar, sehingga nilai raport saya yang semula agak lumayan menjadi turun drastis sampai saya tamat belajar. Karena keadaan ini pula, saya sampai beranggapan “misal nanti saya bisa kuliah gratis sekalipun, saya tidak mau, saya takut di bully dan di cela lagi” kasihan saya. 

Saya tidak berani bertanya atau bercerita kepada siapapun, selain malu, saya juga belum siap jika orang orang membicarakan hal ini. Saya sempat iri melihat teman saya dengan masalah yang sama, namun bisa teratasi. Lagi lagi, saya tidak berani bertanya, karena ya itu tadi, saya masih malu, padahal saya ingin sekali tahu hal itu.

MAU BERTANYA NGGAK SESAT DI JALAN

Tidak tahan dengan masalah rasa percaya diri yang saya alami, akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya. Saya tidak bertanya pada orang, tapi pada internet. Bertanya pada internet pun sebelumnya saya masih takut, khawatirnya jika ternyata solusi atas masalahku ini tidak seperti yang saya kira.

Foto : mitrakeluarga
Namun ternyata anggapan saya terhadap internet salah, saya senang sekali karena ternyata banyak orang orang yang memiliki pengalaman seperti saya dan teratasi dari artikel artikel di internet yang saya baca.

Mengikuti petunjuk informasi di artikel yang saya baca, pengobatan pun di mulai. Saya pun mendatangi dokter gigi spesialis di daerah saya tinggal dan mengutarakan masalah saya. Dan ternyata dokter bilang, bahwa masalah saya ini begitu mudah di atasi. 

SENYUM MANIS LAHIR KEMBALI KARENA BERANI BERTANYA

Senyum indah yang kunanti selama bertahun tahun #maafbukanlaginarsis
Singkat cerita, gigi saya pun rapih kembali setelah 7 tahun rusak. Betapa gembiranya saya, setelah sekian lama bertahan dengan rasa tidak percaya diri, akhirnya bisa kembali karena keberanian saya bertanya. Dengan penampilan saya yang baru inilah saya lebih mudah bertutur sapa dengan orang orang, tersenyum indah menghadapai lawan bicara saya, sehingga orang pun bisa tersenyum pula menghadapi saya. Rasanya senangggg sekali. Sekarang saya bisa menjadi pribadi yang lebih mudah bergaul, walau tidak semudah orang lain. Dari pengalaman ini saya mendapat pelajaran bahwa berani bertanya itu penting, keberanian itu penting.

HIKMAH DARI BERANI BERTANYA

Yang paling menyenangkan lagi adalah saat saya bisa memberikan solusi atas masalah yang sama, yang di alami oleh teman saya. Sama seperti saya, dia juga malu untuk bercerita atau bertanya tentang masalahnya, giginya yang kurang rapih. Karena saya tahu apa yang ia rasakan, saya pun dengan berani bertanya. Jika tidak saya tanya, maka dia pun tidak akan bercerita. Singkat cerita, setelah pengobatan dan perbaikan ia lakukan atas saran saya, ia pun merasa senang sekali, karena bisa tersenyum manis dan indah.

FITUR TANYA #AskBNI DARI @BNI46

Berkenaan dengan cerita saya, BNI sebagai Bank ternama di Indonesia juga mengeluarkan fitur terbaru bernama #AskBNI. Yaitu fitur dimana kita bisa menanyakan sesuatu seputar solusi perbankan yang bisa di lakukan melalui DM (Direct Message) di twitternya @BNI46. Untuk menggunakan fitur ini sebelumnya kita harus mendaftar terlebih dahulu, caranya, lihat penjelasan Amir pada gambar di bawah ini :

 




Demikianlah cerita tentang gigi dari saya, semoga bisa menumbuhkan kesadaran kita akan pentingnya bertanya, agar tidak sesat di jalan. Yang penting, jika kita malu bertanya jangan JALAN TERUS diam saja, bertanyalah. Begitu pula dengan fitur #AskBNI di @BNI46, jika Anda ingin tau banyak seputar Bank BNI, Anda tinggal kirim pertanyaan seperti yang saya  contohkan di atas. Sekian dulu artikel ini saya buat, semoga bermanfaat, terimakasih.

Sumber gambar kartun di pinjam dari : desaininteriorrumahminimalis

Subscribe to receive free email updates:

8 Responses to "Antara Keberanian - Gigi - dan Kepercaya Dirian"

  1. Dari malu bertanya jadi nggak menikmati masa 7 tahun.. Pas banget sama yang aku bikin, emang cowok itu gengsi nanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa iya sih, saya gak berani nanya gara gara malu Mbak, sebenernya pengen banget

      Hapus
  2. walah..... kok gitu sih Bhro
    ayo hilangkan kemaluan eh.. rasa malu dan ayo tunjukkan keberanianmu :D :D

    7 tahun lalu boleh menyesal, tapi 7 tahun yang akan datang semuanya harus berganti dengan hari-hara i penuh smangat.

    apalagi dengan adanya fitur #AskBNI ini, proses tanya menanya (istilah apa ini) jadi lebih gampang hehehe

    good luck dan salam bloggerhoki

    bedelhoki

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya itulah, latar belakang orang itu beda beda banget. Sebenernya saya agak malu sih ceritanya..

      Hapus
  3. Seru ya ceritanya... tp sekarang udah pede lagi kan? Hehehe

    Good luck ya, semoga menang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu kisah pilu saya Mbak. Tapi dengan kejadian ini, membuat saya jadi banyak tau soal perasaan yang di alami oleh orang orang yang senasib dengan saya, juga soal kesehatan gigi dan mulut

      Hapus
  4. Tak kirain itu gambar gigi agan, hehe. Kalo temen cewek ane ada tuh yg dibully tp cuma gara2 bau badan, kan kesian liatnya. Yg ngebully pd sadis2 amat lagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di obatin kan bisa, kasian kan, secara dia cewe

      Hapus