Ma’mun dan Inu – 2 Sahabat Penyandang Keistimewaan Dengan “Keistimewaan”

Ma'mun dan Inu. Foto : pribadi
Di tempat saya tinggal, ada dua orang sahabat akrab saya yang memiliki kondisi dengan keistimewaan (disabilitas). Mereka adalah teman teman terbaik saya.

Namun begitu saya tak pernah menganggapnya sebagai kekurangan, saya anggap mereka berdua layaknya orang normal pada umumnya, malah jika ada mereka, suasana menjadi semakin asik dan menyenangkan.

Ma’mun : usianya sekarang sekitar 18 tahun. Keterbelakangan yang ia miliki adalah soal berpikirnya. Walaupun umurnya sudah dewasa, namun untuk membaca dan menulis saja ia masih kesulitan, bahkan jika di bandingkan dengan anak kelas 2 SD, masih lancar si anak kelas 2 SD tersebut.

Dan sepertinya ini bersifat lama, kalaupun di belajari (di stimulasi) perlu waktu yang begitu lama, tidak seperti anak anak normal pada umumnya.

Karena cara berpikir yang kurang cerdas itu lah, orang jadi sering mencemooh dan melontarkan kata kata yang kurang enak di dengar, ia pun merasa terusir dari pergaulan.

Sering ia mengeluh pada saya atas sikap orang orang terutama teman sebayanya yang suka mencela, saya pun hanya bisa menasehatinya saja.

Walaupun begitu ia tetap di sekolahkan oleh orang tuanya, supaya ia bisa menikmati masa kanak kanaknya bersama teman teman sebayanya.  Sekolah tempat ia belajar bukanlah sekolah inklusi, jadi siswanya membaur menjadi satu dan di ajar oleh satu guru yang sama.

Ia pernah tinggal kelas satu kali dan setelahnya terus naik sampai kelas 6. Mungkin karena di rasa kemampuanya kurang memungkinkan oleh gurunya, ia terus di naikan dengan sengaja hingga kelas 6 SD dan akhirnya lulus, setelah itu ia tidak sekolah lagi.

Sungguh sejatinya baginya tak munafik, jika dia bisa meminta kepada Tuhan, dia ingin di lahirkan layaknya orang normal pada umumnya. Tapi apa daya, itu adalah anugrah Tuhan, dia hanya bisa mensyukuri saja. Semua pemberian Tuhan itu baik, dan ada rencana lain di balik itu semua.

Saat ini ia bekerja sebagai buruh lepas di Jakarta. Walaupun dengan keterbelakangan yang ia miliki, ia sadar bahwa ia tak ingin merepotkan orang lain terutama orang tuanya. Ia mulai kerja sejak sekitar satu tahun lalu. Walaupun ia penyandang disabilitas, tapi ia bisa membuktikan bahwa dengan kekuranganya pun ia bisa produktif seperti orang lain pada umumnya. Dan bosnya pun tidak pernah mengeluh dengan cara kerjanya, malahan kata teman temannya, si Ma’mun itu kerjanya rajin.

Sejatinya, kaum difabel dan pandangan masyarakat terhadapnya tak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah sikap kita yang sering mendiskrimasikan dan membuat jarak antara keduanya ada beda. Yang membuat anggapan orang terhadap kaum difabel menjadi negatif adalah kebiasaan yang sering ia lakukan dengan suka beritual fisik “mengulurkan  tangan”. Tapi sebenarnya itu tabiat masing masing orang, bukan watak secara umum kaum difabel. (Sumber : Cucun Hendriana)

Kembali lagi ke cerita, walaupun Ma’mun dengan kondisi mentalnya yang kurang cerdas tersebut, namun ia memiliki keahlian yang tidak di miliki orang lain di kampung saya, apa itu, lihat video amatiran buatan saya di bawah :


Ya, di balik kekuranganya,  ia memiliki “keistimewaan” yang tidak semua orang miliki. Dia pandai sekali bermain gendang dangdut layaknya pemain gendang orkes dangdut proffesional seperti yang kalian lihat di televisi atau VCD VCD yang di jual di pasar pasar.

Seringkali saya dan Ma’mun beserta teman teman lainya menghibur diri dengan berdangdutan ria di depan rumah saya seperti terlihat pada video di atas. Alunan gendangnya begitu gemuplek layaknya pemain gendang proffesional orkes dangdut ternama. Uniknya, ia bisa mempelajari tekhnik menggendang ini dari seorang temanya dengan begitu cepat, sedangkan orang orang normal yang sengaja belajar seperti saya sampai sekarang masih saja kesulitan memainkanya.

Bahkan teman saya yang lain menawarinya untuk membentuk sebuah grup dangdut dan dia menjadi tukang gendangnya. Dengan keahlianya bermain gendang, orang yang terkadang mendiskriminasikanya menjadi sadar, bahwa di setiap kekurangan pasti ada kelebihan tersendiri.

Itu kisah dari teman saya Ma’mun dengan keahlian menggendangnya, satu lagi kisah dari teman difabel saya, namanya Inu, ini kisahnya.

Inu : berbeda dengan Ma’mun yang memiliki kelemahan dalam berfikir, teman saya yang satu ini yang seorang tuna rungu dan tuna wicara, justru memiliki IQ yang sangat cerdas walaupun tidak sekolah. Orang orang begitu terkagum kagum dengan kecerdasanya. Mungkin jika ia normal dan di test IQ, ia memiliki skor test yang tinggi dan bahkan melebihi rata rata. Bagaimana tidak, dengan kondisinya yang seperti itu, dia bisa menangkap banyak pembahasan dengan begitu cepat.

Contohnya, sepeda motor milik ia sendiri bisa di pasangi kopling atas inisiatifnya sendiri, dan ia tau bagaimana cara melakukanya. Untuk seorang difabel seperti dia, itu merupakan hal yang luar biasa, bahkan saya sendiri tidak bisa.

Motor milik Inu yang ia pasangi kopling sendiri. Foto : Pribadi
Dalam berkomunikasi sehari hari denganya, saya dan orang lain menggunakan bahasa isyarat tangan. Bagi yang sudah paham dengan bahasa isyaratnya, dalam menyampaikan suatu maksud bisa di lakukan dengan cepat karena bisa dengan mudah menterjemahkanya. Bahkan, sesuatu yang rahasia yang orang normal sembunyikan, bisa ia ketahui melalui suasana, bahasa tubuh ataupun tatapan matanya. 

Saya juga tak menyangka, orang dengan keistimewaan seperti itu bisa begitu cerdas. Makanya, di banding Ma’mun, ia bahkan tidak menerima diskriminasi dari orang orang dan malah di anggap melebihi kemampuan orang normal. Memang, sungguh luar biasa setiap ciptaan Tuhan, dan kita tidak sepatutnya untuk mendiskriminasikanya.

Sama dengan Ma’mun, ia juga seorang buruh lepas serabutan di sekitar desa saya saat ada yang menawarinya kerjaan. Motor yang ia gunakan adalah motor yang ia beli dari hasil kerjanya, kalau tidak salah harganya 4 juta-an.

Layaknya orang normal, Ia juga tahu bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia harus bekerja untuk mencari nafkah, bahkan ia juga ikut menopang kebutuhan hidup sehari hari keluarganya, maklum, orang tuanya hanya seorang buruh dengan penghasilan yang tak seberapa. 

Mereka berdua adalah teman terbaik saya, saya begitu sadar bahwa setiap ciptaan Tuhan itu indah, semua ada maksud tersendiri, ada potensi tersendiri yang tak di miliki orang lain di balik kekuranganya. Saya tak mau mencela mereka, mencemooh dan mendiskrimasikan mereka. Coba bayangkan, jika Anda jadi dirinya, jadi mereka berdua atau jadi keluarganya, maukah kalian terdiskrimasi, tidak kan ? 

Makanya, sesama manusia itu sama derajatnya, kita itu setara dan sama sama memiliki hak, yang membedakan hanyalah kelakuan. Kata orang tua saya “wong urip kuwe sing penting lakon” (orang hidup itu yang penting kelakuanya). Seganteng apapun, secantik apapun kalau kelakuan buruk ya tidak baik. 

Jangan tertawa dengan kata “kuwe” ya, Inyong (saya) ini orang Kebumen, jadi bahasanya ngapak men, “kuwe” sama dengan “iku” (itu) untuk logat Jogja atau Solo, dan  kuwe itu bukan roti ya,  he he he :-D

Selain Ma’mun dan Inu, ada dua teman perempuan difabel juga di lingkungan saya. Mereka adalah Wati dan Samini,  keduanya sama seperti Inu,  tuna rungu dan tuna wicara, namun mereka produktif dan bekerja. Untuk cerita dari Samini, justru menurut majikanya, Samini itu lugu, tidak macam macam, tidak suka mainan hp karena tidak paham pastinya dengan hp, dan getol (tekun) kerjanya, sehingga sang majikan pun senang dengan cara kerjanya. Terbukti dengan ketekunanya bekerja, ia bisa membantu orang tuanya merenovasi rumah dengan uang hasil kerjanya, hebat bukan ?

Itulah cerita pribadi saya bersama orang orang istimewa di tempat saya tinggal. Bersama ini pula, saya juga akan sedikit ber-opini kepada pemerintah dalam berbagai hal tentang kaum difabel.

Negara akan lebih maju jika bisa membebaskan hak kepada setiap warganya untuk berkarya meraih cita cita termasuk untuk para kaum difabel. Menurut penuturan Mimi Mariani - seorang akitifis tuna netra - yang juga penyandang dua gelar master di Universitas Indonesia dan University of Leeds Inggris ini, layanan pendidikan khusus difabel di tempat ia belajar sudah mencapai jenjang Universitas, dari SD sampai Perguruan Tinggi dan lebih inklusif di banding Negara kita ini. 

Setiap jurusan kuliah, pasti ada satu semester tentang difabilitas dan wajib di ambil. Jika kuliah di ekonomi pasti ada Economy and Disabillity. Jika jurusan hukum pasti ada Law and Disabillity. Dan jika jurusan manajemen pasti ada Management and Disabillity. Jadi setelah lulus mahasiswanya memiliki pengetahuan tentang difabilitas. (Sumber : Budi Wicaksono)

Di Indonesia sendiri - untuk sebagian kota kota di Pulau Jawa - menurut data yang di muat di BP-DIKSUS kota Semarang, jumlah sekolah inklusi tingkat SD - SLTA untuk area Jawa Tengah mencapai 544 sekolah. Sementara untuk kota Depok, Jawa Barat, menurut sumbernya di http://disdik.depok.go.id/?p=958 terdapat 219 sekolah inklusi tingkat SD - SLTA. Sedangkan untuk kota Jakarta, kota nomor 1 di Indonesia, menurut sumbernya di solider.co.id, jumlah sekolah umum yang inklusi dari TK - SLTA ada 374 sekolah.

Sedangkan untuk kota Kebumen Jawa Tengah tempat saya tinggal, setahu saya, saya belum pernah menjumpai sekolah inklusi di kota saya, apalagi fasilitas umum untuk orang difabel, saya belum pernah melihatnya.

Ada juga anak dari tetangga saya yang juga memiliki status difabilitas, oleh orang tuanya di sekolahkan di sekolah SLB (Sekolah Luar Biasa) dan saat ini sudah masuk SMA. Alasan di masukan di sekolah SLB karena memang belum ada sekolah inklusi di kota saya ini.

Menurut saya jumlah sekolah inklusi di atas terbilang masih sedikit, terutama untuk kota Jakarta yang memiliki jumlah penduduk yang sangat padat. Hal ini berdasarkan komentar komentar para orang tua di blog yakinku.wordpress.com. Mereka masih banyak yang mengeluhkan sulitnya mencari sekolah inklusi untuk anak atau saudara mereka yang memiliki status difabilitas. Selain itu, juga fasilitas dan sarana belajar siswa difabel yang belum tentu memenuhi di setiap sekolah inklusi, sehingga berpengaruh pada kualitas pendidikan sekolah inklusi itu sendiri.

Foto : Republika
Sedangkan untuk tingkat Universitas atau Perguruan Tinggi - masih menurut Budi Wicaksono - dari ratusan Universitas di Negara Indonesia, hanya ada 4 Universitas inklusif yang menerima siswa difabel, yaitu UIN Sunan Kalijaga Yoyakarta, UPI Bandung, Universitas Brawijaya Malang dan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Di kampus UIN Jogjakarta contohnya, para siswa difabel mendapatkan layanan pendidikan khusus dalam belajar. Seperti di sediakanya jalan khusus untuk orang difabel (ramp) yang hampir terlihat di setiap sudut untuk para difabel pengguna kursi roda dan tuna netra. Juga ada gedung khusus sebagai pusat layanan difabel.

Gedung Pusat Layanan Difabel UIN Jogjakarta. Foto : Budi Wicaksono
Karena sebenarnya kaum difabel itu cerdas, salah satu contohnya adalah Nyle DiMarco. Kalian pasti tau kan siapa dia, kalau belum pasti kalian kurang update deh ! Dia adalah ANTM Cycle 22 (American Next Top Model) Cycle 22 yang baru baru ini datang ke Jakarta dalam rangka tour ASIA untuk sebuah tujuan. Dia adalah inpirasi dunia dengan menjadi juara utama modeling internasional di negaranya Amerika Serikat. Yang menarik dari dia adalah karena dia seorang difabel tuna rungu.

Nyle DiMarco, model tuna rungu juara internasional. Foto : Liputan6
Dia di lahirkan dari keluarga dengan kondisi yang sama seperti dirinya. Sadar dengan hal itu, dia di sekolahkan di sekolah khusus tuna rungu oleh keluarganya. Gallaudet University, satu satunya Universitas khusus tuna rungu di dunia. Dia lulus dengan gelar sarjana matematika.

Di situ dia banyak belajar kemampuan kemampuan terutama dalam hal berkomunikasi yang di sebut dengan bahasa ASL (American Sign Language). Sebuah tata cara bicara bahasa isyarat untuk orang tuna rungu. Dia juga aktif dalam komunitas tuna rungu.

Di situ juga, dia banyak mendapatkan dukungan dari komunitasnya yang anggotanya bukan hanya penyandang tuna rungu saja, tapi orang orang yang peduli dengan keadaan tersebut. Dengan banyaknya dukungan tersebut, dia lebih mudah mendefinisikan dirinya dan tau kemana arah tujuan hidupnya.

Menurut dia, dukungan orang orang terhadap keberadaan tuna rungu sangat penting agar lebih percaya diri untuk lebih mudah mendefinisikan dirinya meraih prestasi yang di inginkanya.

Prestasi yang ia raih membawa pengaruh besar dalam dunia difabilitas khususnya penyandang tuna rungu. Banyak penyandang dengan kondisi serupa yang ramai ramai mendukung prestasinya. Bahkan, orang orang normal dengan pun banyak yang belajar bahasa ASL, setidaknya untuk sapaan sapaan sederhana. Ini membuktikan bahwa pendidikan itu penting bagi semua kalangan termasuk untuk para kaum difabel.

Semoga kedepan semakin banyak sekolah inklusi terutama Universitas atau Perguruan Tinggi di Indonesia, agar para kaum difabel bisa menyalurkan bakat dan cita citanya. Ini menjadi tanggung jawab pemerintah dalam menangani hak kaum difabel dalam bidang pendidikan, supaya semua kaum difabel bisa mengejar dan menggapai cita citanya.

Di atas adalah layanan pendidikan untuk kaum difabel. Sedangkan untuk fasilitas umum, menurut penelusuran saya di  situs boomee.co, fasilitas umum untuk kaum difabel di Indonesia masih jarang di temukan, kalaupun ada masih sedikit jumlahnya. Fasilitas umum untuk kaum difabel seperti di Bandara, Bus, Supermarket masih jarang di jumpai. Ini menandakan bahwa Indonesia adalah Negara yang belum ramah kaum difabel.

Salah satu jalan trotoar untuk kaum difabel di kota Bandung. Foto : Rodopistar
Lain halnya dengan Negara Negara lain seperti di Jepang misalnya. Menurut penuturan Weedy Koshino saat berada di Jepang, pemerintah di Negara tersebut begitu memperhatikan dan memperdulikan fasilitas umum masyarakatnya tidak terkecuali untuk para kaum difabel dan manula. Fasilitas umum di Negara tersebut di buat tidak hanya untuk orang normal saja, namun untuk para kaum difabel dan manula juga sangat di perhatikan. Jadi bukan hanya difabel, manula juga.

Contohnya seperti di Supermarket. Untuk menarik lebih banyak pembeli ke sebuah Supermarket, bukan hanya melalui diskon besar besaran seperti pada umumnya. Di Jepang, di sediakan kursi roda khusus untuk kaum difabel dan manula, agar mereka bisa berbelanja dengan mudah. Pemandangan seperti ini sudah umum kita jumpai jika kita berkunjung ke Negara tersebut.

Kursi roda untuk belanja di supermarket untuk kaum difabel dan manula di Jepang. Foto : WeedyKhosino
Juga fasilitas umum seperti toilet juga banyak tersedia di berbagai tempat seperti Rumah Sakit, Shopping Mall, Supermarket yang di bedakan dengan ruangan yang lebih luas dan dinding yang memiliki banyak pegangan, sehingga memudahkan para kaum difabel dan manula dalam menggunakannya.

Fasilitas lainya yaitu seperti Tenji Blocks - yaitu huruf braille - tulisan sentuh ala Jepang (Hiragana dan Romanji, alfabet yang disadur kedalam bentuk karakter khusus) yang berfungsi untuk memudahkan orang tuna netra untuk menyusuri jalan. Dimana lantainya itu terdapat tanda-tanda berupa karakter khusus. Fungsinya tentu saja untuk memudahkan orang tuna netra untuk mengenali jalan yang sedang dilaluinya.

Tactile Paving (Tenji Blocks) di Jepang. Foto : WeedyKhosino
Duh, seandainya Indonesia sama seperti Negara Jepang dalam hal fasiliatas umum untuk kaum difabel dan manula, mungkin Indonesia akan lebih maju. Mungkin Indonesia akan lebih makmur karena semua masyarakatnya termasuk para kaum difabel bebas menuntut haknya, layaknya orang normal pada umumnya.

Walaupun fasilitas umum untuk kaum difabel di Indonesia belum seperti di luar negri, namun ada kabar gembiranya, menurut sumbernya di republika, bahwa pemerintah kini sudah mengesahkan RUU inisiatif tentang disabilitas yang menegaskan bahwa, para penyandang disabilitas kini sudah memiliki hak penuh baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial budaya dan pendidikan pastinya.

Semoga dengan RUU ini, kaum difabel bisa mendapatkan hak penuh dan bisa setara dengan masyarakat pada umumnya. Dalam hal pendidikan, semoga semakin banyak Universitas dan sekolah sekolah inklusi yang membuka kesempatan bagi kaum difabel, sehingga cita cita mereka bisa tercapai.

Dengan RUU ini pula, semoga kaum difabel juga semakin terbuka kesempatannya untuk mendapatkan hak dalam memperoleh pekerjaan. Memang, sebelumnya sudah ada aturan pemerintah tentang hak kaum difabel untuk di terima di bekerja di suatu perusahaan, contohnya dengan adanya job fair beberapa waktu lalu di Jakarta.

Ada salah satu perusahaan yang menerima karyawan hingga 150 orang dari kaum difabel. Namun dengan RUU yang baru ini, semoga kedepan bisa di tingkatkan lagi agar mereka juga bisa seperti kita, terpenuhi haknya. (sumber : detik.com)

Kesimpulanya, difabilitas dan non difabilitas adalah sama, kita itu setara, dan mereka juga berhak atas pemenuhan layanan umum seperti ekonomi, pendidikan, pekerjaan dan lain sebagainya layaknya kita yang normal. Dan semoga Indonesia bisa meniru Negara Negara yang lebih ramah difabel seperti Jepang dan Amerika seperti pada cerita di atas.

Sejatinya yang mereka butuhkan bukanlah untuk di kasihani, tapi di beri kesempatan dan di dukung. Setiap manusia itu unik, beda, namun sama sama makhluk Tuhan dengan hak yang sama. Yang suka membedakan hanyalah kita sendiri yang sering mendiskriminasikan suatu hal, iya kan ?

Subscribe to receive free email updates:

12 Responses to "Ma’mun dan Inu – 2 Sahabat Penyandang Keistimewaan Dengan “Keistimewaan”"

  1. Wah... cerita yang sangat menggugah ya Mas Amir. Semua orang memiliki keistimewaan dan patut diapresiasi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul, setiap orang baik ia difabel atau bukan pasti ada kelebihanya, makanya kita tidak boleh memandang negatif kepada siapaun, termasuk kepada kaum difabel sekalipun

      Hapus
  2. semuanya memiliki hak yang sama, kadang memang mereka bukan minta dikasihani, itu malah merendahkan, tapi diakui dan memiliki hak yang sama dengan manusia normal lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya betul, yang mereka butuhkan itu kesempatan, bukan di kasihani. Terimakasih sudah berkunjung :D

      Hapus
  3. inspiring..
    subhanaAllah ya, dibalik keterbatasannya mereka menyimpan keistimewaan. Allah Maha baik..
    semoga Mamun dan Inu terus berprestasi
    tahun ini RUU penyadang disabilitas bakal masuk pembicaraan tkt I

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap betul banget. Semoga juga dengan RUU yang baru ini, semakin banyak sekolah inklusi di Indonesia, terutama untuk tingkat Universitas, agar semua orang bisa berprestasi tanpa memandang fisik atau mental, seperti Marquel.

      Hapus
  4. Sangat menginspirasi sekali gan, artikelnya... memang, terkadang orang - orang yang memiliki sedikit saja perbedaan dari orang normal, maka tentunya mereka akan dikucilkan... dan sebenarnya itu tergantung dari orang - orang disekitar mereka, agar memberikan support dan dukungan... bahwa perbedaan itu tak selamanya buruk... terima kasih artikelnya, sangat inspiratif sekali gan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sama sama, sebenernya mereka dengan kita semua itu setara, sama sama memiliki hak layaknya orang orang orang pada umumnya

      Hapus
  5. Salam ya sama teman2 hebatnya itu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke...terimakasih sudah berkunjung ke blog saya, salam kenal :D

      Hapus
  6. Sepakat mas Amir, kesempatan bukan diskriminasi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul Mbak Dame, mereka itu cuma butuh kesempatan, bukan diskriminasi. Btw terimakasih sudah berkunjung :D

      Hapus